January 2012

You are currently browsing the monthly archive for January 2012.

“Banyak ajaran seperti sebuah kaca jendela. Kita melihat kebenaran melalui kaca itu, tetapi ia memisahkan kita dari kebenaran itu sendiri”

–Kahlil Gibran–

Tags: , , , ,

“Kebijaksanaan, belas kasih dan keberanian adalah tiga hal yang merupakan kualitas moral dalam kehidupan manusia”

–Confucius (551-479 SM), Filsuf Cina–

Tags: , , , , , , ,

“Sejarah adalah obor untuk menerangi masa silam dan membimbing kita memerangi pengulangan kekeliruan di masa mendatang”

–Claude G. Bowers (1878-1958), Sejarawan Amerika–

Tags: , , , ,

“Ninety-nine percent of the failures come from people who have the habit of making excuses. ”

–George Washington Carver, American scientist, botanist, educator–

 

Tags: , , , ,

“Sahabat terbesar kebenaran adalah waktu, musuh utamanya adalah kecurigaan tanpa dasar, dan temannya yang setia adalah kerendahan hati”

–Charles Caleb Colton (1780-1832), Penyair Inggris–

Tags: , , , , , ,

Eka Nada Shofa Alkhajar

Dimuat di Joglosemar, 16 Januari 2012

Melihat berbagai aksi kekerasan yang kian mengemuka dan marak di negeri ini tentu meninggalkan keprihatinan yang begitu mendalam. Wahid Institute mencatat aksi kekerasan yang terjadi di tahun 2011 lalu meningkat dari tahun sebelumnya yakni sebanyak 92 kasus.

Catatan ini menunjukkan, betapa kekerasan seakan menjadi sebuah jalan keluar dari segenap permasalahan yang muncul. Namun yang patut disayangkan adalah ternyata salah satu aktor kekerasan itu merupakan oknum aparat keamanan yang seharusnya berkewajiban melindungi dan mengayomi masyarakat. Sungguh sesuatu yang patut kita sesalkan bersama. Tentu saja imbas dari aksi kekerasan yang dilakukan oknum aparat keamanan ini tidak akan pernah dapat terbalas dengan tuntas. Korban nyawa yang melayang tentu tidak akan pernah dapat digantikan atau tergantikan oleh apapun juga. Kita ambil contoh baru-baru ini yakni kasus Bima, Nusa Tenggara Barat.

Oknum aparat keamanan berusaha mengusir para warga yang menduduki pelabuhan dengan cara brutal baik memukuli, menganiaya serta menembaki warga hingga jatuh korban. Hal ini tentu bukan sebuah pendekatan yang patut dibenarkan. Apalagi tindakan oknum aparat tersebut jelas sudah keluar dari prosedur tetap yang ada. Kita dapat melihat di layar kaca, beberapa aparat berusaha membersihkan selongsong peluru yang telah digunakan untuk menghilangkan barang bukti.

Pasca kejadian berbagai aksi solidaritas yang mengecam dan mengutuk aksi barbar aparat keamanan tersebut kian menyebar. Namun bukannya menjadi sebuah peringatan. Aksi kekerasan yang dilakukan aparat kembali terjadi belum lama ini. Sekelompok aktivis mahasiswa di Solo ketika menggelar aksi solidaritas dihajar, dipukuli habis-habisan secara brutal oleh aparat di atas truk aparat. Bahkan menurut beberapa sumber, aparat tersebut bahkan turut mengumpat dan bersumpah serapah dengan kata-kata yang seyogianya tidak layak untuk diucapkan.

Apa yang ditampilkan oknum aparat tersebut merujuk pada terminologi Louis Althusser dalam Essays on Ideology (1984) merupakan bentuk repressive apparatus state. Namun, lebih daripada itu, Jamil Salmi dalam bukunya Violence and Democratic Society (1993) mengutarakan bahwa apa yang dilakukan oknum aparat keamanan tersebut bukan lagi taraf menindas (repressive violence) melainkan sudah merupakan bentuk kekerasan langsung (direct violence). Salmi menilai wajah kekerasan langsung tersebut begitu menyeramkan dan mengerikan bahkan serupa dengan aksi barbar.

Aksi yang dilakukan oknum aparat ini tentu saja harus kita tolak (say no to violence). Fakta-fakta tersebut kini kian menorehkan cerita kelam akan bentuk kekerasan yang dilakukan oleh aparat keamanan dalam hal ini adalah polisi. Dimana polisi seharusnya menjadi pengayom masyarakat dengan senantiasa mengedepankan sikap santun dan humanis bukan malah menjadi brutal serta barbar sebagaimana peran yang dilakukan di beberapa kasus di atas. Tentunya kita semua amat menyayangkan apabila hal ini terus dan terus terjadi kembali.

Mengutuk dan mengecam keras aksi barbar itu tentu harus kita lakukan namun yang lebih utama adalah penyelesaian kasus-kasus tersebut secara tuntas mulai dari pengusutan hingga menindak secara tegas oknum-oknum yang bertanggungjawab atas terjadinya insiden tersebut. Penulis sendiri mengajak kepada semua pihak untuk menghilangkan segala bentuk kekerasan yang tentunya malah akan mencederai nilai-nilai kemanusiaan.

Masyarakat tentu merindukan aparat keamanan yang betul-betul menjadi pembela dan penegak keadilan bagi setiap masyarakat tanpa kecuali. Aparat yang menjadi pelindung dan pengayom masyarakat serta hanya tunduk pada kebenaran. Masyarakat tentu tidak menghendaki aparat yang arogan dan membela kepentingan para pemodal yang tidak pernah memikirkan nasib rakyat kecil sebagaimana logika ekonomi kapitalis.

Kerja keras terus menerus untuk melawan berbagai bentuk kekerasan atas dasar apapun baik itu suku, ras, agama, etnis dan sebagainya tentu menjadi tantangan yang tidak akan pernah berakhir (the end does not justify the means). Tentu kita bersama tidak menginginkan aksi kekerasan terkutuk semisal yang terjadi pada saudara kita warga Syiah di Sampang kembali terulang.

Oleh karena itu, kekerasan harus kita bumi hanguskan bersama-sama. Upaya-upaya ini harus terus digalang baik dari kalangan organisasi non pemerintah, asosiasi-asosiasi, media massa, mahasiswa serta seluruh elemen masyarakat. Tentu kita dapat belajar mengenai pesan serta semangat ini dari para inspirator besar semisal Mahatma Gandhi atau Martin Luther King Jr. yang telah mengajarkan solidaritas, cinta dan kasih sayang. Salam Perjuangan, Hidup Mahasiswa, Hidup Rakyat, Hidup Bangsa Indonesia!!!

Tags: , , , , , , , , , , , ,

Bersama Pengurus HMI Cabang Surakarta

Selasa, 10 Januari 2012 kemarin. Bertempat di Mabes HMI Cabang Surakarta. Saya berkesempatan untuk sharing dan berdiskusi kembali dalam Forum Upgrading Pengurus HMI Cabang Surakarta Periode 2011-2012 dalam sebuah tema mengenai “Eksternal Organisasi”. Kira-kira tepat seminggu yang lalu salah seorang pengurus HMI menghubungi saya berkaitan dengan kesediaan untuk mengisi Upgrading tersebut. Beberapa hari kemudian saya menyatakan kesanggupan karena dalam hari-hari itu pula saya sedang menunggu konfirmasi agenda lain yang akan diadakan di Jakarta. Khawatir berbarengan waktunya.

Dalam forum tersebut, saya mengungkapkan beberapa gagasan berkaitan dengan pembangunan eksternal bagi organisasi. Beberapa poin penting itu adalah mengenai Community Relation dan Media Relation. Dimana kedua kemampuan ini apabila dapat dikelola dengan baik tentu akan memberikan kebaikan kepada organisasi mengingat bahwa HMI merupakan salah satu gerakan mahasiswa sebagai motor pengerak perubahan tentu harus senantiasa mengupgrade kapasitas serta memaksimalkan segenap potensi yang dimilikinya–termasuk gerakan mahasiswa yang lain–sehingga kemampuan ini tentu selaras dengan berbagai peran yang menjadi ranah garap gerakan mahasiswa tersebut.

 

Tags: , , , , ,

BukuKatta

Untuk pemesanan buku langsung melalui kami

cukup mentransfer uang seharga buku.
ONGKOS KIRIM GRATIS dengan pos biasa ke seluruh Indonesia (berkisar selama 1 minggu).

untuk pembelian minimal atau di atas 3 eks (judul bebas) dapatkanDISCOUNT 10% dan BEBAS ONGKOS KIRIM ke seluruh Indonesia

Uang dapat ditransfer ke rekening:

BNI : 0100679407

Mandiri : 138-00-0774251-8

CIMB Niaga : 975-01-00313-18-3

Setelah transfer, koonfirmasi alamat ke: 081 2264 0769

 

Sumber: BukuKatta

Tags: , ,

Judul buku        : Pahlawan2 Yang Digugat

Penulis             : Eka Nada Shofa Alkhajar

Penerbit           : Katta Solo

Edisi                 : I, Juli 2008

Tebal                : 128 Halaman

 

Sosok pahlawan masih terus debatable. Figur yang meskipun telah ditulis dengan tinta emas pun masih diperdebatkan. Sehingga tak mustahil bila ada sejumlah sosok pahlawan nasional masih dipertanyakan, apakah mereka itu benar-benar pahlawan?

Memang, seperti diungkapkan presiden pertama, Soekarno, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa para pahlawannya. Demikian juga penulis buku ini, Eka Nada Shofa Alkhajar tak menampik hal tersebut. Namun, dia juga berpendapat bahwa pahlawan adalah manusia yang tidak sempurna, sehingga tentu tidak lepas dari kekurangan.

Oleh karena itu dengan buku ini penulis mengajak pembaca berkontemplasi untuk mendesakralisasikan sosok pahlawan nasional dengan mendudukan mereka sebagai manusia biasa yang memiliki banyak keunggulan namun tidak sedikit pula kelemahannya. Ini dimaksudkan agar pembaca tidak akan terjebak pada kultus individu.

Misalnya, Pangeran Diponegoro yang telah mengobarkan Perang Jawa mengusir penjajah Belanda, masih dipertanyakan apakah perjuangannya itu murni? Bukankah dia berperang untuk membela harga diri dan kehormatan keluarganya? Demikian juga Kartini, dengan bukunya Habis Gelap Terbitlah Terang yang telah menjadi bukti perjuangannya mengangkat harkat martabat kaumnya. Namun, keotentikan dan orisinalitas pemikiran Kartini dalam kumpulan surat-suratnya itu masih ada yang meragukan.

Beberapa sosok pahlawan lain seperti Sultan Agung, Anak Agung Gde Agung, Sultan Hasanudin, Tuanku Imam Bonjol, Tuanku Tambusai, masing-masing juga masih dipersoalkan dan ditulis dalam bab-bab tersendiri. Pardoyo/Litbang SOLOPOS.

Sumber: Solopos, 26 Oktober 2008

Dimuat di Solopos, 30 November 2011

Tom Gembus adalah dosen baru di universitas top markotopdi Kota Solo. Orangnya masih muda, bahkan dilihat dari penampilannya nyaris tak tampak kalau ia adalah seorang dosen.

Itulah yang membuat para mahasiswanya terkecoh, seperti yang terjadi pada awal semester lalu.

Sepuluh menit menjelang kuliah perdana dimulai, Tom Gembus menuju ke salah satu ruang kuliah yang sebagian sudah terisi mahasiswa.

Sementara beberapa mahasiswa lain termasuk Jon Koplo terlihat masih nongkrong-nongkrong di depan kelas sambil gojeg.

Tom Gembus segera masuk kelas dan duduk di kursi mahasiswa sambil menunggu waktu. Tetapi para mahasiswa yang di depan pintu tadi tidak segera masuk.

Mengko sik mlebune, dhosene durung teka,” ucap Jon Koplo kepada teman-temannya. Ia pun meneruskan banyolannya.

“Eh, mase yang baru masuk itu semester atas lho,” ujar Koplo cengengesan. “Kasihan ya masih ngulang, he-he-he…” lanjutnya.

“Lha dosennya yang mana sih?” tanya seorang teman.

“Dhosene wis tuwa tur gering,” jawab Koplo sekenanya.

Tak seberapa lama muncul Lady Cempluk lari tergopoh-gopoh menuju ruang kuliah karena khawatir terlambat.

Ngapain lari-lari Pluk? Dosennya belum datang kok. Biasa, pegawai negeri, males!” selorohnya.

Kowe kuwi sing males!” balas Cempluk. “Lha itu kan Pak Tom Gembus, dosen kita!” tunjuknya.

Mak jenggirat, Jon Koplo Cs kaget saknalika ketika melihat Tom Gembus sudah siap mengajar di depan kelas.

Mereka buru-buru masuk kelas sambil tertawa cekikikan, tentu saja kecuali Jon Koplo yang hanya bisa diam seribu bahasa.

(Eka Nada Shofa Alkhajar, Perumahan Griya Wonorejo, Karanganyar 57188)

Atau lihat pula di Solopos.com “Terkecoh Dosen”

Tags: , , , ,

« Older entries