September 2011

You are currently browsing the monthly archive for September 2011.

Gedung Rektorat UNS

Himpunan Mahasiswa Pendidikan Matematika (HIMMADIKA) FKIP UNS menggelar General Orientation of Mathematics Education (GEOMETRIC) pada 25 September 2011. Kegiatan ini bertempat di GOR UNS. Pada wadah tersebut saya mendapatkan kesempatan dari panitia untuk sharing dengan segenap mahasiswa baru khususnya Jurusan Pendidikan Matematika FKIP UNS.

 

Dalam kesempatan ini saya menyampaikan paparan bertema “Quo Vadis Mahasiswa?”. Saya menyampaikan bahwa keberhasilan masuk ke sebuah perguruan tinggi dan menyandang status mahasiswa bukanlah akhir dari sebuah perjuangan melainkan merupakan tahapan awal dari proses panjang kehidupan yang akan kembali dijalani. Mahasiswa baru sejatinya sedang melakoni masa transisi dari siswa menjadi mahasiswa sehingga dibutuhkan sebuah kemampuan adaptasi yang baik untuk dapat belajar di sebuah perguruan tinggi.

Selain itu, beberapa tips serta pengalaman mengenai belajar di perguruan tinggi juga saya sharingkan kepada segenap peserta GEOMETRIC. Tak lupa, saya turut berpesan kepada teman-teman mahasiswa baru yang begitu menyenangkan tersebut untuk tetap menjaga tiga tradisi yaitu membaca, berdiskusi dan menulis.

 

Sumber gambar dari: usmitb.com

Tags: , , ,

Kampus Kehidupan

Eka Nada Shofa Alkhajar

Dimuat di Solopos, 16 September 2011

Bakda zhuhur siang itu seakan menjadi saksi bisu dari kerianganku. Betapa tidak, aku diterima di sebuah perguruan tinggi terkemuka di Belanda. “Alhamdulillah, aplikasi kuliah dan beasiswa doktoralku dikabulkan,” pekikku dalam hati. Akan tetapi, kegembiraan hati itu mendadak lenyap manakala aku mengingat istriku, Hannah. Ya, sudah sejak lama ia seakan tidak masuk dalam lingkar prioritasku. Sungguh bukan maksud hati demikian akan tetapi realitaslah yang memaksaku bertindak seperti itu.

Masih segar dalam ingatan dimana sekitar dua tahun lalu, aku telah meninggalkannya seorang diri. Saat itu ia berjuang sendiri membesarkan buah hati kami, Aksa. Terhitung, aku mulai meninggalkannya kala Aksa masih dalam kandungan. Begitu pun saat melahirkan aku tidak dapat mendampinginya.

Di kota ini, kami tidak memiliki keluarga. Setelah menikah, kami berdua hidup merantau dan mengadu nasib menghadapi kerasnya dunia. Tapi aku bersyukur, Hannah, mempunyai sahabat karib, Khadijah, yang senantiasa rela dimintai pertolongan. Kebetulan Khadijah adalah istri dari seorang sahabatku, Rahman. Lokasi Rahman bekerja tidak jauh yakni hanya di kota tetangga sementara aku harus rela berpindah-pindah karena pekerjaanku adalah seorang fasilitator pemberdayaan masyarakat.

Hannah memang seorang istri yang taat dan sholehah. Sama sepertiku, ia pun mengenyam pendidikan tinggi bahkan lulusan terbaik sebuah universitas ternama di Yogyakarta. Namun, ia rela menikah denganku seorang lelaki miskin dan sederhana. Aku mengenalnya saat menjadi fasilitator di sebuah desa di Yogyakarta.

Singkat kata, kami sama-sama jatuh hati dan tak lama kemudian mengikrarkan janji setia sebagai suami dan istri. Walaupun ia pernah mengatakan bahwa ia memahami pekerjaanku namun sebagai seorang manusia dan suami tentu aku merasa sangat bersedih karena tidak dapat selalu berada di sampingnya. Bahkan saat ia melahirkan Aksa!.

Aku terperanjat dan mulai tersadar saat adzan ashar mulai berkumandang. Tidak terasa aku berkontemplasi demikian lama. Aku tidak tega mengatakan bahwa aku ingin melanjutkan sekolah dengan mengambil peluang tersebut. “Apa yang harus aku katakan ya Allah,” lirihku dalam hati.

Apakah aku harus meninggalkannya lagi untuk kesekian kali setelah dua tahun lalu aku meninggalkannya untuk sekolah masterku di Jepang? Bagaimana dengan perkembangan Aksa nantinya? Bagaimana pula perasaan hati istriku? Beragam pertanyaan seakan menghampiri tidak hanya kepada akal namun juga kepada hatiku. Aku merasakan perang batin tengah berkecamuk di dalam dadaku. “Ya Allah, bantulah hambamu ini,” pintaku.

Tak ingin larut dalam perang batin tersebut, aku bergegas menuju ke masjid terdekat dan mengambil air wudhu untuk shalat berjamaah. Selesai shalat tak lupa aku panjatkan doa. Memohon agar diberi petunjuk bagaimana jalan keluar yang terbaik. Sejurus kemudian, aku segera meluncur menuju rumah kami di daerah Karanganyar. Aku sudah membulatkan tekad akan menyampaikan perihal ini. Namun aku tetap menyerahkan semuanya kepada istriku, apapun jawabannya. Aku ikhlas apabila ia melarangku. Lagi pula sudah seringkali aku meninggalkannya baik itu demi tugas, pekerjaan ataupun sekolah.

Aku tidak punya alasan lagi untuk kembali pergi. Walaupun sesungguhnya, aku sudah bertekad akan mencari pekerjaan lain agar aku punya lebih banyak waktu bersama istri dan anakku. Dimana aku bercita-cita menjadi seorang pengajar dan akan mencoba melamar di sebuah perguruan tinggi ternama di Kota Solo. Tak jauh dari tempat kami tinggal. “Assalamu’alaikum,” ujarku sembari mengetuk pintu rumah. “Waalaikumsalam warahmatullah,” sahut Hannah dari balik pintu.

“Eh mas, sudah pulang, bagaimana tadi ada informasi apa? Sepertinya penting sekali tiba-tiba diminta Pak Harso untuk mengambil surat di kantor. Belum sempat aku menjawab, Hannah telah menyuguhkan secangkir kopi favoritku di meja. Sungguh aku semakin tidak kuasa menjawab pertanyaannya.

Pak Harso adalah kepala lembaga di kantor tempatku bekerja di Yogyakarta. Namun karena aku berada pada divisi pemberdayaan masyarakat maka tugasku berkeliling dari daerah satu ke daerah lain. Dari sabang sampai merauke dimana hampir semua daerah pernah aku singgahi.

Aku menyeruput kopi hangat di hadapanku. “Sungguh nikmat kopi buatan istriku ini,” batinku sembari tersenyum. Namun rona wajah ini seakan tidak sanggup menyembunyikan kegalauan. Hannah pun kembali bertanya, “Mas Ahsan kok nggak jawab sih?” ungkapnya mencari jawaban. Entah mengapa lidahku terasa kelu dan tidak mampu berkata. Bagaikan terkunci sebuah gembok besar.

Tak ingin membuatnya sedih dan menanti lagi. Akhirnya dengan sisa keberanian yang ada, aku sampaikan informasi itu apa adanya. Ia tidak langsung bereaksi. Ia mematung dan diam seribu bahasa. Dari wajahnya terlihat ada sesuatu yang berkecamuk dalam dadanya.

Aku berpikir mungkin istriku sudah tak sanggup lagi menahan berbagai “cobaan” selama ini. Namun, ternyata sontak ia mengucapkan, “Alhamdulillah, selamat ya mas,” ucapnya gembira. Aku merasa aneh mengapa ia malah senang. Belum sempat aku berkata.

Ia pun segera berujar, “Diambil saja mas, karena kesempatan itu jarang datang dua kali,”. “Semoga nanti setelah lulus mas bisa menerapkan ilmu sesuai dengan cita-cita mas sejak kecil,” ungkapnya.

“Aku heran dari mana ia tahu akan impianku sejak kecil?” Mengapa semudah itu ia ingin agar aku meneruskan sekolah dan yang pasti akan kembali meninggalkannya?” batinku. Seakan mendengar suara hatiku, ia mengatakan bahwa ia ikhlas kalau harus ditinggalkan lagi olehku guna meneruskan sekolah di negeri kincir angin dan keju tersebut. “Mas Ahsan, cinta tidak akan menghalangi seseorang untuk meraih takdirnya,” tuturnya dengan mantap.

Ia berjanji akan menjaga semua kepercayaan seperti yang telah ia tunjukkan selama ini. Ia melanjutkan bahwa cinta itu adalah proses “menjadi” bukan hanya sekedar “memiliki”, inilah makna kampus kehidupan sejatinya. Alhamdulillah terima kasih ya Allah. Kami pun berpelukan penuh haru. Tak lama, terdengar tangisan Aksa laksana memanggil kami berdua. Tabik.

Tags: , , , , , , ,

Sangatlah miris jika seseorang yang berpredikat mahasiswa, namun masih kesulitan dalam berkomunikasi. Mahasiswa, merupakan golongan yang selama ini diunggulkan di dalam masyarakat, sehingga dituntut mampu dan mahir berkomunikasi untuk mencurahkan pemikirannya.

Untuk melatih kemampuan berkomunikasi, tentu juga terdapat tahapan atau proses pembelajarannya. Biasanya seorang mahasiswa belajar cara berkomunikasi di kelas mulai dari kelompok terkecilnya, seperti di kelas atau dalam organisasi. Dengan pembiasaan yang baik untuk berkomunikasi, secara berlahan mahasiswa akan mahir tata bahasa dalam berkomunikasi. Selain itu, mental atau keberaniannya juga akan terbentuk dengan sendirinya.

Kepada Joglosemar, Selasa (13/9), Dosen Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sebelas Maret (UNS), Eka Nada Shofa Alkhajar, mengatakan, kelas kuliah merupakan media terkecil interaksi mahasiswa. Media ini mempunyai manfaat besar dalam pembelajaran berkomunikasi. Sehingga mahasiswa harus bisa memanfaatkannya secara maksimal, dengan keaktifan dan respons yang tinggi dalam proses kegiatan belajar berlangsung.

“Sebisa mungkin mahasiswa harus pintar-pintar memanfaatkan proses kuliah di kelas. Apalagi, model pembelajaran saat ini dosen hanya bertindak sebagai fasilitator dan menuntut mahasiswa untuk bisa aktif di kelas. Misalnya dengan kegiatan diskusi tema, yang dimunculkan dosen. Momen seperti inilah yang akan mewajibkan mahasiswa menguraikan pendapatnya,” papar pengampu mata kuliah Komunikasi Organisasi ini.

Lebih lanjut, dikatakan hal ini utamanya berlaku bagi mahasiswa biasa yang tak aktif dalam kegiatan keorganisasian. Sebab, para organisatoris atau mahasiswa yang aktif dalam sebuah organisasi baik ekstra ataupun intrakampus. Mahasiswa yang biasa disebut aktivis itu, dalam organisasinya sudah dituntut bisa berkomunikasi dari proses pembelajaran dalam organisasi.

Dengan proses dialektika atau diskusi, katanya, maka efektif untuk membentuk kemampuan berkomunikasi mahasiswa. Selain itu, tingkat kepercayaan diri juga akan semakin tinggi, karena dialektika menuntut kita berpikir dan harus disampaikan kepada lawan bicaranya. “Tugas utama mahasiswa itu, membaca, berdiskusi, dan menulis. Kalau ketiganya dilakukan dengan baik, maka output-nya ke depan juga akan baik terutama kemampuan dalam komunikasi,” ungkapnya.

Menghidupkan
Sebagai dosen, tentunya juga harus berperan aktif untuk menghidupkan suasana kelas, agar mahasiswa tertarik untuk menguraikan pendapatnya. “Kalau dalam kelas saya, sebisa mungkin suasana harus hidup dan menyenangkan. Saya kerap melontarkan pertanyaan, agar mereka juga berpikir dan menjawabnya dengan beberapa penjelasan. Kalau perlu, keakraban antara dosen dengan mahasiswa juga harus terjalin,” papar pemuda kelahiran Jakarta itu.

Kendati demikian, diamnya mahasiswa saat berada di kelas sebenarnya disebabkan banyak hal, di antaranya memang sifatnya pendiam, sedang malas, bosan dan acuh tak acuh terhadap lingkungan serta bisa jadi mahasiswa yang bersangkutan tengah dirundung masalah. “Sehingga perasaan semua itu di bawa saat mereka kuliah,” ujar Kepala Program Studi (Kaprogdi) Psikologi Universitas Setia Budi (USB) Surakarta, Yustinus Joko Dwi N SPsi MPsi.

Diutarakan dia, ke semua kondisi tersebut wajar dimiliki semua orang. Namun sebagai manusia yang memiliki akal, pikiran dan budi pekerti seharusnya kita mampu menempatkan diri di mana kita berada. Mahasiswa pasif di kelas, kata dia, tak berarti tak memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan lingkungan sekitarnya.

Selain itu, faktor dosen dan keberadaan lingkungan kampus juga membawa pengaruh. “Itu tergantung pendekatan personal dan metode pengajaran yang diberikan dosen kepada mahasiswa mampu menghidupkan suasana atau tidak. Karena keberadaan dosen bukan hanya sekadar membagikan ilmu kepada muridnya, melainkan mampu menerapkan suatu proses pembelajaran yang nyaman antara mahasiswa dan dosen,” sambung Joko.

Lebih lanjut dikatakan, kegiatan orientasi mahasiswa baru yang digelar kampus juga ikut mempengaruhi pandangan mahasiswa terhadap lingkungan kampus. –Anisaul Karimah & Raditya Erwiyanto–

Sumber: Joglosemar, 14 September 2011

Tags: , , , , ,

Momentum

“One way to keep momentum going is to have constantly greater goals.”

– Michael Korda, American Writer

Tags: , ,

Pada tanggal 7 September 2011, UNS menggelar acara silaturahmi rutin yang digelar setiap tahun. Acara tersebut berlangsung di Auditorium UNS. Silaturahmi Tahunan 1432 Hijriah Keluarga Besar UNS ini dihangatkan oleh paparan tausiyah mubalig, Seno Hadi Sumitro yang berpesan bahwa Esok harus lebih baik. Ajang ini diharapkan mampu menjadi wadah rekonsiliasi jika sebelumnya terjadi gesekan antar civitas akademika UNS sehingga ajang tersebut ke depan akan tetap diteruskan dan dilestarikan sebagaimana disampaikan oleh Rektor UNS, Prof. Dr. Ravik Karsidi, MS dalam sambutannya.

Namun, hal yang dapat dikatakan sebuah kejutan atau mungkin sebuah kebetulan adalah saat tiba waktu bersalam-salaman saya dan beberapa rekan dosen justru yang dijepret oleh kamera sang wartawan tentu saja saat bersalaman bersama Rektor UNS. Hasilnya dapat dilihat pada gambar di samping ini. So, sempat jadi artis mendadak deh..hehe..

Sumber gambar: Solopos, 8 September 2011, hal. 6.