Mural, Identitas dan Praktik Sosial

Eka Nada Shofa Alkhajar

Dimuat di Harian Joglosemar, 17 Desember 2012

Sumber Gambar: http://akbarnugroho.multiply.com/photos/photo/23/29?&show_interstitial=1&u=%2Fphotos%2Fphoto

Mural merupakan salah satu jenis lukisan dinding (Susanto, 2002). Eksistensi mural dapat dengan mudah ditemui di berbagai sudut kota ataupun di berbagai daerah di tanah air ini. Walaupun mural berasal dari Bahasa Latin yakni “murus” yang bermakna dinding. Namun, tidak berarti mural hanya bermedium dinding. Atau dengan kata lain, dinding di sini tidak dimaknai an sich sebagai pembatas wilayah ataupun sekadar pembatas rumah melainkan harus dibaca sebagai suatu diskursus medium yang luas.

Memang kita kerap melihat mural mengisi dan menghiasi dinding sekolah, pagar rumah, pagar tempat sampah, tembok-tembok pemukiman warga maupun tembok stasiun kereta api. Namun kita tentu pernah melihat pula mural hadir pada pos ronda, jembatan layang, warung-warung hingga pada lintasan jalan. Kalau kita main ke Kota Jakarta, mural bahkan muncul dengan memanfaatkan tiang-tiang bakal monorel yang nasibnya terbengkalai hingga hari ini.

Sebagai salah satu bentuk sajian visual yang hadir di ruang sosial sekaligus ruang publik. Mural tentu tidak dapat dibaca dan dimaknai ala kadarnya. Sebab mural mampu berbicara mengenai zaman, pergumulan politik, keresahan sosial, kritik sosial, sekaligus pertarungan makna dan identitas. Oleh karena itu, mural hendaknya dinikmati sebagai suatu teks-teks sosial yang turut hadir meramaikan dinamika kehidupan kota maupun masyarakat. Mural merupakan praktik sosial di mana ia lahir sebagai ekspresi, artikulasi maupun pengejawantahan ide, gagasan serta kegelisahan pembuatnya sehingga mural dapat dilihat sebagai wahana komunikasi seniman dengan masyarakat dan lingkungannya.

Kita ambil contoh misalnya beberapa mural di Kota Surakarta, di tembok yang terletak di bilangan jalan samping SMK Negeri 6 tepat sebelum pemberhentian lampu lalu lintas ada sebuah mural menarik di mana tergambar sejenis makhluk melata menyeramkan diikuti narasi “Daerah Rawan Ego Berkendara”. Representasi makhluk itu dapat dimaknai sebagai para pengendara kendaraan. Sementara kalimat yang mengikutinya merupakan bentuk makna sosial di mana di tempat tersebut menjadi daerah rawan berkendara karena banyak pengendara yang hanya mementingkan diri sendiri tanpa memerdulikan orang lain.

Hal ini memperoleh penguatan di mana waktu hitung lampu lalu lintas di tempat itu berdurasi pendek sehingga memacu pemakai kendaraan untuk buru-buru melintas. Mural ini dapat dimaknai sebagai pengingat untuk waspada akan bahaya sekaligus kritik agar pengendara tidak mengedepankan ego pribadinya.

Mural "Anti Korupsi itu Cucok" (Dok. Penulis)

Masih di tempat yang sama, belum lama ini hadir mural baru yang menggambarkan sosok koruptor pencuri uang rakyat, lembaran uang, serta seseorang yang memegang senapan yang ditujukan ke arah koruptor tadi diperkuat dengan narasi “Anti Korupsi itu Cucok” dan “Berani Jujur Hebat!!!”. Penulis mencatat mural ini muncul tepat sebelum perayaan hari anti korupsi internasional yang jatuh pada tanggal 9 Desember di mana di tahun ini memasuki kali kedelapan peringatan melawan tindak kejahatan luar biasa tersebut. Tak lupa, di sudut bawah mural tersebut tertulis nama komunitas seniman pembuatnya. Hal ini dapat dilihat bahwa mural pun mahir memainkan peranan sebagai suatu penanda, representasi maupun politik identitas.

Melalui mural, dinding-dinding yang sebelumnya bisu dan mati berubah menjadi hidup, mampu bertutur dan menawarkan sesuatu. Di mana dinding-dinding tersebut mampu mengajak, bercerita dan berkisah mengenai seruan profetik, motivasi, inspirasi, semangat, imaji dan identitas kota, rekaman sejarah, gugatan terhadap zaman serta anjuran alturistik.

Seperti mural yang berisi ajakan untuk senantiasa berbuat baik yang berada di Jalan Gajah Mada Surakarta di mana kini telah hilang tak berbekas. Atau mural sebagai doa selamat jalan untuk Bang Jun (Junaidi), pelatih utama Persis Solo yang telah wafat “RIP Bang Jun”. Atau lihat pula mural di kawasan Stasiun Kereta Api Purwosari di mana sang seniman berpesan “Surakarta Istimewa” dan “Jangan Cuma Corat-Coret But Berkarya Bung!”.

Dalam konteks dialektika sosial maupun publik, mural dapat pula menyuguhkan kesejukan, kesegaran dan keceriaan baru dari penatnya rimbun tanda dan lambang kota yang begitu membosankan dan kerap bersenyawa dengan hasrat kapitalisme semisal poster, pamflet, reklame iklan, papan billboard yang semrawut ditambah dengan sesaknya bangunan pemukiman, pranata ekonomi hingga mal-mal yang acapkali dimaknai bagian dari simbol manusia urban.

Di samping itu, mural dapat menjadi salah satu alternatif solusi dari berbagai aksi vandalisme yang marak dan acapkali tidak bertanggungjawab karena hanya mengotori ruang publik. Meminjam uraian Wicandra (2005), mural menjadi salah satu alternatif yang dapat dijadikan sebagai penyeimbang lingkungan ketika lingkungan kota tidak memberi lagi kesegaran bagi panca indera secara lengkap.

Lebih dari itu, dari mural sejatinya terekam dan tercermin berbagai kode budaya yang tentunya sangat menarik apabila kita ingin mengaji dan menggalinya lebih jauh dan mendalam. Mungkin tahapan itu dapat dimulai dengan seri dokumentasi mural di mana hal ini dapat dilakukan seiring sejalan dengan laku riset-riset berkaitan dengan teks-teks sosial tersebut. Tabik.

Lihat pula di http://cetak.joglosemar.co/berita/mural-identitas-dan-praktik-sosial-110524.html