Eka Nada Shofa Alkhajar

Dimuat Joglosemar, 9 April 2012

Tidak ada yang meragukan kecendekiawanan dan kepiawaian bertutur melalui tulisan dari seseorang yang bernama Kuntowijoyo. Namun, siapa menyangka bahwa semangat menulisnya ini tetap menggelora dan tak pernah luntur, walaupun dirinya tengah dihinggapi penyakit virus meningo enchepalitis (flu berat), yang membuatnya kesulitan berbicara.

Ia memang dikenal sebagai sosok yang tidak menyerah pada penyakitnya. Idealisme pengabdian Kunto—sapaan akrabnya—bagi dunia sastra, sejarah, dan agama telah menafikan rasa takut akibat sakit yang ia derita. Ia dapat dikatakan merupakan salah satu dari sedikit sastrawan sekaligus akademisi yang mampu menyeimbangkan antara menulis sastra dan karya ilmiah sama kuatnya (Wan Anwar, 2007: vii).

Sebuah novel berjudul Khotbah di Atas Bukit melambungkan namanya di dunia sastra. Bahkan salah satu karya agungnya ini ditulis di sela-sela waktu mengajar. Cendekiawan yang lahir di Yogyakarta, 18 September 1943 juga dikenal sebagai kiai di mana ia turut mendirikan Pesantren Budi Mulya pada tahun 1980. Dan, pemahamannya yang mendalam mengenai sejarah telah mengantarkannya pada samudra kearifan yang tak terbatas.

Selama ia sakit, lebih dari 50 karya buku telah diterbitkannya dan sebagian besar memperoleh banyak penghargaan. Kita ambil contoh, buku Dilarang Mencintai Bunga-Bunga berhasil mendapatkan penghargaan sastra dari Pusat Bahasa di tahun 1994. Cerpen Lelaki yang Kawin dengan Peri (1995), Pistol Perdamaian (1996) dan Anjing-Anjing Menyerbu Kuburan (1997) mendapatkan penghargaan sebagai cerpen terbaik versi harian Kompas tiga tahun berturut-turut. Kemudian kembali melalui cerpen Mantra Pejinak Ular pada tahun 2001, intelektual muslim ini juga ditetapkan sebagai pemenang Hadiah Sastra Majelis Sastra Asia Tenggara (Mantera).

Selain itu, ia juga berhasil menelurkan karya-karya nonfiksi yang sukses. Antara lain: Radikalisme Petani (1993), Metodologi Sejarah (1994), Dinamika Sejarah Umat Islam di Indonesia (1994), Demokrasi dan Budaya (1994), Pengantar Ilmu Sejarah (1995), Identitas Politik Umat Islam (1997), Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi (1999), Islam Tanpa Masjid (2001), Selamat Tinggal Mitos, Selamat Datang Realitas: Esai-Esai Budaya dan Politik (2002), Islam Sebagai Ilmu: Epistemologi, Metodologi dan Etika (2004).

Dalam perjalanan hidupnya, Kunto belajar menulis semenjak kecil hingga dewasa. Berkat kegigihannya ini, novel berjudul Kereta Api yang Berangkat Pagi Hari berhasil diterbitkan di harian Jihad sebagai cerita bersambung. Dalam keseharian, Kunto melakukan aktivitas menulisnya secara rutin. Ia biasa bangun pukul 03.30 WIB untuk beribadah dan kemudian menulis hingga hampir subuh. Selepas salat subuh ia kembali menulis atau sekadar berjalan-jalan pagi setelah itu kembali menulis hingga siang hari. Saat siang menjelang ia tidur hingga sore hari dan kembali menulis hingga tengah malam. Dan begitu seterusnya. Satu hal lagi, kemana pun ia pergi, akan selalu ada buku catatan bersamanya (Latifah US, 2007; Wan Anwar, 2007).

Pelajaran yang dapat diambil dari sosok Kuntowijoyo adalah kegigihannya untuk terus berkarya dan berjuang walau dalam kondisi sakit sekalipun. Baginya sakit dan kondisi yang sulit bukan menjadi alasan untuk tidak terus berkarya. Menurutnya menulis merupakan bentuk perjuangannya melawan penyakit virus yang dideritanya sebagai wujud sosial profetik yang dapat ia lakukan. Perlu diketahui bahkan menjelang kepergiannya pun, Kunto masih sempat menulis karangannya yang berjudul Mengalami Sejarah. Sehingga dapat dikatakan ia nyaris tidak berhenti menggoreskan penanya.

Akhirnya, pada 22 Februari 2005 lalu, sastrawan, cendekiawan sekaligus agamawan ini menghembuskan nafas terakhirnya. Selepas kepergiannya, buku berharga peninggalannya pun menyusul diterbitkan yakni Historical Experience (Mengalami Sejarah) dan Peran Borjuasi dalam Transformasi Eropa. Melihat segenap perjalanan Kuntowojoyo, sungguh merupakan suatu pengalaman yang sangat inspiratif bagi generasi muda saat ini untuk tidak mudah patah arang dalam menghadapi segenap tantangan kehidupan yang ada sehingga tidak menjadikan kondisi sesulit apapun itu sebagai alasan untuk malas berkarya. Mengutip pesan George Washington Carver, bukankah 99 persen kegagalan itu adalah buah dari kebiasaan mencari-cari alasan? Tabik.

Lihat pula di www.harianjoglosemar.com

Tags: , , ,

Dosen Muda Mengajar Anak Muda

Solopos edisi Selasa, 4 April 2012 memuat kisah singkat perjalanan saya menjadi seorang pengajar di UNS. Dari bagaimana saya mendapatkan uang untuk membayar biaya kuliah hingga pengalaman kejutan ulang tahun dari mahasiswa pada suatu kesempatan.

Dalam kesempatan wawancara guna pemuatan rubrik ini saya tidak sendiri melainkan bersama kawan saya sesama dosen UNS, Dimas Rahadian. Singkat cerita, pada suatu malam, saya mendapat kontak dari seorang jurnalis, sebuah harian ternama di Kota Solo. Ia mengabarkan kapan kiranya dapat bersua untuk wawancara. Saya menanyakan berkaitan dengan perihal apa?. Dijawab berkaitan dengan liputan dosen muda. Saya pun mengiyakan dan kami pun membuat janji.

Setelah menjawab beberapa pertanyaan wawancara pun selesai dan kami berdua bergegas kembali untuk beraktivitas menjalani hari itu.

Berita terkait:

http://www.solopos.com/2012/lifestyle/dosen-muda-mengajar-anak-muda-175607

http://www.solopos.com/2012/lifestyle/dosen-muda-memimpin-kampus-di-usia-muda-175568 

Tags: , , , , , , ,

Eka Nada Shofa Alkhajar

Dimuat di Joglosemar, 19 Maret 2012

Konteks ideal organisasi mahasiswa tentu harus senantiasa dijunjung tinggi. Sehingga organisasi mahasiswa tidak dibenarkan apabila masuk ke ranah politik praktis, terkooptasi, berafilisasi ataupun menjadi underbow suatu partai politik. Independensi organisasi mahasiswa harus senantiasa dipegang teguh dan menjadi harga mati guna menjaga kemurnian geraknya.

Tentu kita bersedih manakala ada organisasi mahasiswa yang menggadaikan independensinya untuk kepentingan “kerdil” semata apalagi berkaitan dengan politik praktis sebagaimana penulis ungkapkan sebelumnya.

Tulisan ini tidak bermaksud ataupun berpretensi untuk menimbulkan wacana yang tidak baik melainkan sebuah upaya urun rembuk penulis sebagai sebentuk pengingat bagi segenap organisasi mahasiswa untuk selalu menjaga independensinya yang seharusnyalah ditegakkan.

Selain itu, perihal membangun sebuah iklim kompetisi antar organisasi mahasiswa yang sehat dan berwibawa patut untuk menjadi perhatian pula. Penulis mengambil contoh misalnya, pada saat momentum penerimaan maupun masa orientasi mahasiswa baru. Di masa ini biasanya suhu kontestasi kian meninggi dan kian marak.

Hal ini terlihat lumrah karena masa-masa tersebut merupakan ajang bagi segenap elemen mahasiswa untuk mengajak kawan-kawan mahasiswa baru belajar berproses dalam organisasi apapun itu bentuknya. Dengan catatan, asalkan memang untuk membangun sebuah paradigma konstruktif dan kritis bukan malah membentuk paradigma yang tunggal, feodal, maupun malah menjadikan diri kita kerdil dengan menganggap bahwa “ini yang benar” dan “itu yang salah” secara membabi-buta tanpa mau melihat dari berbagai perspektif yang ada.

Menurut penulis jikalau memang dalam perjalanan, niatan mengajak mahasiswa baru ini ada berbagai hal yang terlihat berbenturan ataupun berseberangan maka dibutuhkan suatu kejernihan hati dan pikiran untuk beritikad baik sama-sama menyelesaikan hal tersebut dengan membangun suatu ruang dialog yang demokratis lagi bermakna.

Jangan sampai organisasi mahasiswa malah terjebak dalam suatu permainan yang tidak sehat seperti adanya ungkapan “siapa memanfaatkan apa” dan “siapa dimanfaatkan siapa”.

Ditambah berbagai black campaign yang belum tentu benar terhadap organisasi mahasiswa lain yang menjadi kompetitor dengan maksud menjatuhkannya tentu bukanlah hal yang layak untuk dilakukan. Penulis sendiri berharap semoga hal ini tidak terjadi karena tentunya memancing di air keruh bukanlah hal elegan dalam kehidupan mahasiswa.

Sudah saatnya mahasiswa mampu mendudukan segala sesuatu dengan porsi yang benar, sudah saatnya untuk mampu saling menguatkan, saling mendukung, saling memotivasi dan bukan malah saling mencederai. Jika tidak maka mahasiswalah yang tengah mengerdilkan dirinya sendiri!.

Karena setiap peristiwa sejarah merupakan produk dari konteks zaman sejauh yang melingkunginya. Maka mahasiswa tidak boleh asal bergerak dan asal bergerak. Dengan demikian jelas dari fakta-fakta sejarah bahwa perjuangan mahasiswa tidak pernah merupakan show business, melainkan senantiasa dianggap sesuatu yang serius, yang didorong oleh tuntutan besar pada zamannya, tuntunan baru jiwa zamannya. Itulah yang disebut orang Jerman, Zeitgeist (Kohn, 1955: 10).

Adapun catatan penulis selanjutnya untuk menutup tulisan ini adalah sebuah pengingat bahwa jangan sampai organisasi mahasiswa di zaman mutakhir ini memerankan atau melahirkan mahasiswa yang memainkan peranan Don Quixote (di Indonesia dikenal sebagai Don Kisot) tokoh roman karya sastrawan besar Spanyol Cervantes.

Don Quixote adalah tokoh idealis-buta yang tidak mau tahu mengenai kenyataan-kenyataan keras yang ada di sekelilingnya, sehingga tindakan-tindakannya sekaligus menggelikan dan menyedihkan seperti pada waktu ia menyerbu kincir-kincir angin yang disangkanya raksasa dan pada waktu menyerang sekawanan kambing yang dikiranya suatu tentara musuh.

Semoga state of mind nasionalisme dan semangat pembaharuan dapat menjauhkan kita semua dari disorientasi peran organisasi mahasiswa dan mendorong mahasiswa generasi-generasi sekarang untuk dapat menunaikan tugasnya sesuai dengan kondisi-kondisi yang lain dari kondisi-kondisi periode sebelumnya. Sekian dan salam hangat.

Tags: , , , , , , ,

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Dinas Pendidikan menyelenggarakan Program Fasilitasi Perguruan Tinggi Provinsi Jawa Tengah 2012. Dimana program ini dimaksudkan untuk memberikan fasilitasi pada perguruan tinggi baik swasta maupun negeri untuk meningkatkan kemampuan dalam penelitian dan pengembangan IPTEKS serta melahirkan wirausaha dan sekaligus meningkatkan kontribusinya dalam pembangunan masyarakat Jawa Tengah di berbagai sektor.

Antara lain: (1) Meningkatkan kemampuan dan kemandirian perguruan tinggi dalam menggerakkan sumberdaya IPTEKS; (2) Mensinergikan perguruan tinggi, pemerintah dan masyarakat dalam pemberdayaan potensi dan kebutuhannya melalui IPTEKS; (3) Meningkatkan budaya kewirausahaan dikalangan civitas akademika dan masyarakat lainnya; (4) Meningkatkan peranan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam pemberdayaan perguruan tinggi dan masyarakat dalam pengembangan IPTEKS; (5) Meningkatkan kontribusi perguruan tinggi dalam pembangunan pendidikan Jawa Tengah.

Download panduan di tautan ini

Tags: , ,

KNIK 2012

Konferensi Nasional Ilmu Komunikasi (KNIK) 2012 bertema “Meningkatkan Daya Saing Penelitian Komunikasi Indonesia di Kancah Global” yang diselenggarakan di Universitas Pelita Harapan, Tangerang, Banten, 9-10 Februari 2012 memilih tiga paper terbaik. Dua diantaranya dari UNS melalui karya Dra. Sofiah, M.Si. dan Eka Nada Shofa Alkhajar, S.Sos., M.Si.

Acara ini diikuti pemakalah dari berbagai kampus antara lain: UNS, UI, ITB, UGM, UNDIP, UNPAD, IPB, UAJY, UNISBA, UMY, UHAMKA, UIN Syarif Hidayatullah, UMB Jakarta, Universitas Bakrie, Universitas Al Azhar Indonesia, Univ. Budi Luhur, Univ. German Swiss, Univ. Multimedia Nusantara, UKI, STIKOM, UNTIRTA, STSI Bandung, Univ. Trisakti, UPN “Veteran” Yogyakarta, UNHALU, UKSW dan sebagainya.

Para peneliti dan praktisi dari berbagai kampus maupun instansi itu berkumpul untuk mencoba menggagas teori komunikasi berbasis Ke-Indonesia-an. Dalam gelaran ini dipresentasikan 70 paper yang telah lolos seleksi reviewer. Di mana melalui acara ini diharapkan ke depan, akan lahir berbagai teori-teori komunikasi yang berciri khaskan Indonesia.

Selain itu, dalam konferensi ini juga disajikan dua Plenary Session yang diisi oleh berbagai pakar di bidangnya dengan tema “Perkembangan Penelitian Komunikasi Indonesia di Era Global” serta “Kontribusi Penelitan Komunikasi dalam Memajukan Ilmu dan Industri Komunikasi di Indonesia”. Acara ini juga dihadiri langsung oleh Menteri Riset dan Teknologi, Prof. Dr. Ir. H. Gusti Muhammad Hatta, MS sebagai Keynote Speaker dalam gelaran KNIK ini.

Sumber: di sini

Sumber gambar di sini

Tags: , , , , , , ,

Jumat, 16 Maret 2012, Jam 13.00 WIB,
di Public Space FISIP Universitas Sebelas Maret, Jl. Ir. Sutami no.36 A Surakarta, Jawa Tengah
Bersama: Antariksa (KUNCI Cultural Studies Center),  Prahastiwi Utari (FISIP UNS), dan Bandung Mawardi (Esais)

--Budaya Bebas--

KUNCI Cultural Studies Center mengundang anda ke bedah buku “Budaya Bebas: Bagaimana Media Besar Memakai Teknologi dan Hukum untuk Membatasi Budaya dan Mengontrol Kreativitas” karya Lawrence Lessig. Buku yang untuk pertama kalinya diluncurkan ke publik ini menguraikan bahwa di luar kenyataan tentang teknologi baru yang selalu mendorong juga lahirnya produk hukum baru, kini para pelaku monopoli media justru memanfaatkan ketakutan terhadap  teknologi baru ini, terutama Internet, untuk membatasi gerak gagasan di ranah publik. Meskipun pada saat yang bersamaan korporasi-korporasi ini juga menggunakan teknologi yang sama untuk mengendalikan apa yang dapat dan tidak dapat kita perbuat dengan budaya. Yang menjadi korban di sini adalah kebebasan kita untuk mencipta, membangun dan akhirnya, kebebasan berimajinasi.  Buku yang juga  merupakan  hasil lokakarya penerjemahan KUNCI tahun 2011 ini diterbitkan atas dukungan Ford Foundation Indonesia sebagai bagian dari proyek “Konvergensi Media dan Teknologi di Indonesia”. Acara ini bedah buku ini didukung oleh Himakom Lab-Sosio: Himasos Universitas Sebelas Maret, Solo.

Free Baca dan Unduh Buku “Budaya Bebas” klik di alamat ini

Sumber gambar dan informasi dari sini

 

Eka Nada Shofa Alkhajar

Dimuat di Joglosemar, 12 Maret 2012

Dalam sejarah perjalanannya, organisasi mahasiswa tak akan lepas dari sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Kehidupan mahasiswa niscaya tidak terlepas dari yang namanya organisasi. Bahkan jika kita menilik ke belakang para founding father bangsa Indonesia semisal Soekarno, Hatta atau juga Tan Malaka senantiasa bersentuhan dengan keorganisasian semenjak mahasiswa.

Sehingga tak heran jika kemudian bahkan hingga saat ini mahasiswa merupakan sosok-sosok yang lekat dengan kehidupan organisasi kemahasiswaan. Organisasi mahasiswa tidak dapat dimungkiri memiliki peranan yang signifikan dalam mewarnai gerak langkah bangsa Indonesia dimana organisasi yang digawangi mahasiswa telah banyak membawa perubahan yang berarti bagi bangsa ini.

Oleh karena itu, organisasi mahasiswa berfungsi sebagai katalisator maupun motor bagi perubahan sosial (social change). Menurut Prof. Dr. Nugroho Notosusanto dalam bukunya Menegakkan Wawasan Almamater, organisasi kemahasiswaan dapat dibagi dua yakni organisasi ekstra (luar kampus) dan intra (dalam kampus).

Keduanya mempunyai titik berat masing-masing yaitu organisasi ekstra lebih menitikberatkan pada kehidupan mahasiswa sebagai social wezen/makhluk sosial, sedangkan organisasi intra lebih meletakkan titik berat pada kehidupan mahasiswa sebagai studerend wezen/makhluk belajar (Notosusanto, 1984: 185).

Namun kiranya saat ini pembagian titik berat tersebut sudah semakin memudar karena bergeser seiring akan tuntunan zaman sehingga tidak lagi saklek dengan dikotomi tersebut. Selain itu pula dikotomi itu pun kian menjadi kurang relevan dalam konteks kekinian. Hal ini dapat terlihat bahwa kini hubungan antara kedua organisasi mahasiswa itu semakin bersifat komplementer. Dimana mahasiswa dapat menjadi bagian dari organisasi intra maupun ekstra sekaligus.

Untuk itu dalam konteks saat ini peran-peran organisasi mahasiswa tentu dituntut untuk lebih cerdas dalam membaca peta zaman serta berbagai tantangannya. Peran semisal senantiasa menyuarakan aspirasi, membela kelompok tertindas dan termarjinalkan serta menjadi kelompok pressure group atau kelompok penekan bagi pembuat kebijakan yang dirasa merugikan dan menindas rakyat patut selalu dikuatkan.

Tentunya dengan pembacaan cerdas akan konteks zaman dalam arti mampu mengambil langkah-langkah lebih konkrit dan mengena dalam memberikan alternatif solusi pemecahan problematika maupun sumbangan pemikiran kritis kini kian menjadi pekerjaan rumah yang penting bagi setiap organisasi mahasiswa.

Penulis pikir organisasi mahasiswa harus mulai memikirkan dan melakukan hal-hal tersebut sehingga tidak akan terjebak dalam gerakan atau aksi-aksi demonstrasi ”genit” semata. Gerakan ataupun aksi yang menyentuh apalagi mampu meringankan beban hingga menjawab permasalahan masyarakat itulah yang sesungguhnya dinanti dari kiprah organisasi mahasiswa terlebih di masa-masa sekarang.

Kelompok Penekan

Memang kini peran organisasi mahasiswa tidak sebegitu hebat dan kuat seperti ketika masa kebangkitan nasional dan masa-masa kemerdekaan. Akan tetapi yang menjadi satu catatan penting bagi organisasi mahasiswa saat ini adalah jangan sampai kehilangan konteks. Justru sekarang organisasi mahasiswa dan mahasiswa itu sendiri diharapkan agar senantiasa menjadi elemen yang mampu membangun kesadaran kritis serta memiliki fleksibilitas tinggi dengan tetap menjaga independensinya dalam menyesuaikan dengan pergeseran zaman.

Mahasiswa sebagai elemen yang diharapkan mempunyai suatu kesadaran kritis dituntut untuk mampu melakukan pembacaan secara baik dan jernih terhadap segala bentuk perubahan zaman maupun terhadap segenap problematika yang terjadi.

Seorang mahasiswa dituntut untuk memiliki cara pandang yang komprehensif dan luas sehingga ia tidak mudah terkooptasi dalam permasalahan yang sebenarnya sederhana namun menjadi pelik karena tidak memaksimalkan daya kritisnya. Apalagi dengan cepat menilai suatu hal dengan mendudukannya dalam posisi mengkotak-kotakkan diri dalam sisi “benar” atau “salah” tanpa melihat duduk permasalahan dengan baik.

Menurut penulis, ada satu hal yang tampaknya terlupa adalah pemaknaan sebagai kelompok penekan (pressure group). Kelompok penekan disini sebagaimana diungkapkan seorang pakar politik, Maurice Duverger, adalah “any group or organization which by persuasion, propaganda, or other means, regulary attempts to influence and shape the policies of goverment”.

Dimana kelompok penekan tidak langsung mengambil bagian dalam memperoleh kekuasaan atau dalam melancarkan kekuasaan itu sendiri, mereka bertindak untuk mempengaruhi kekuasaan sementara mereka tidak terlibat didalamnya; mereka melancarkan “tekanan-tekanan” atas kekuasaan yang sedang berjalan (Duverger, 1984).

Jadi memang idealnya tidak dibenarkan aktivis mahasiswa sekaligus ikut bermain dalam politik praktis apapun itu. Sehingga jangan sampai ada organisasi mahasiswa atau gerakan mahasiswa yang terkooptasi oleh suatu partai politik. Apabila ada, hal ini tentu sangat kita sesalkan bersama. Tabik.

Tags: , , , , , , ,

Kamis, 15 Maret 2012, pukul 09.00-12.00 WIB

di Ruang Aula FISIP UNS. Bersama: A. Adji Watono (President Director Dwi Sapta IMC), Tanty Dewi, S.Sos, M.M (Account Director Dwi Sapta IMC), Drs. Surisno Satrio Utomo, M.Si & Diah Kusumawati, S.Sos, M.Si (Dosen Ilmu Komunikasi FISIP UNS).

Poster Bedah Buku

Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP UNS bekerjasama dengan Dwi Sapta Advertising, Jakarta akan menggelar bedah buku “Integrated Marketing Communication (IMC) That Sells”.

Acara ini merupakan gelaran Roadshow Bedah Buku yang digelar Dwi Sapta Advertising dimana buku tersebut mengurai perihal “Bring Your Brand to the Top with Indonesian Style Communication”. Acara Gratis dan Tempat Terbatas.

Contact Person: Budi Aryanto (Prodi Ilmu Komunikasi UNS) 0271-632478.

Tags: , , ,

Jika ada kisah cinta di bangku sekolah, maka demikian juga di bangku kuliah. Rasa tertarik alias naksir dengan teman sekelas, kakak tingkat ataupun dosen sangat mungkin terjadi. Lantaran terbiasa berinteraksi bukan tidak mungkin terjalin cinta lokasi (Cinlok).

Seperti yang disampaikan salah satu mahasiswa FISIP UNS, Raditya (19), ia menilai intensitas pertemuan menjadi salah satu sebab utama terjadinya cinta lokasi. Awalnya terasa hanya biasa saja, namun lambat laun ada perasaan lain yang menyelimuti hati, terlebih jika ada kecocokan di antara keduanya.

“Seringnya berinteraksi menciptakan keakraban hingga akhirnya bisa saling mengerti satu sama lain meskipun sama-sama sebagai teman satu kelas,” ujar Raditya yang mengaku sedang menjalin cinta lokasi dengan rekan sekelasnya.

Ditemui, Selasa (6/3) di kampusnya FISIP UNS, mahasiswa semester IV ini menganggap ada nilai positif saat menjalin cinta lokasi, yakni saling memotivasi di perkuliahan. “Kalau saya, cinta lokasi tidak mengganggu juga. Justru kami berdua jadinya lebih kompetitif. Masing-masing berusaha menjadi lebih baik sejak hubungan khusus terjalin,” aku Raditya.

Disinggung kemungkinan terganggunya kuliah ketika terjadi pertengkaran antarakeduanya, Raditya mengaku kuncinya tidak mencampuradukkan antara masalah pribadi dengan posisi sebagai sesama rekan sebangku kuliah. Kemungkinan terjadi masalah juga diutarakan Hutma Farandika Pratama (22), mahasiswa Fakultas Hukum UNS.

“Selain efek positif, Cinlok pun bisa berefek negatif juga jika misal kandas di tengah jalan. Misal perasaan jadi jengkel, kuliah pun jadi malas karena merasa canggung saat ketemu Si Dia. Ya susah-susah gampanglah Cinlok itu,” ungkapnya.

Sementara itu, bagi pengamat budaya populer dari UNS, Eka Nada Shofa Alkhajar SSos MSi, cinta lokasi termasuk di dunia kuliah adalah hal wajar. Meminjam sekuel syair lagunya Iwan Fals, kata Eka, karena cinta soal hati. Cinta menurutnya bisa hadir di mana pun berada, tak terkecuali di bangku kampus antara sesama teman satu kelas, beda kelas atau jurusan dan atau bahkan antara dosen dengan mahasiswanya. “Seiring dengan perguliran waktu, cinta lokasi bahkan pun menjadi salah satu tren dalam ranah budaya modern,” ujar dosen Jurusan Komunikasi UNS ini.

Meski dianggap wajar, namun Eka menekankan cinta lokasi harus tetap memiliki rel positif. Jangan sampai cinta lokasi malah dipakai untuk berbuat hal-hal yang bisa merugikan pihak-pihak yang berkepentingan. “Jangan malah terjerumus dalam perilaku-perilaku negatif dan serba bebas. Namun harus selalu ingat pada norma-norma positif yang ada, agar hubungan tidak melenceng dan bisa berakibat baik nantinya,” ingatnya.

Lebih lanjut diutarakan, cinta lokasi seharusnya bisa menjadi peletup dan pendorong bagi terciptanya sifat dan sikap kompetitif positif. Baginya, harapan ideal itu bukan tidak mungkin diwujudkan meskipun tidak menutup kemungkinan terhampar kerikil-kerikil masalah dalam perjalanan membina cinta lokasi itu. Namun, imbuhnya, jika masing-masing pasangan bisa saling mengerti, berpikir dan berbuat positif, ujian apapun akan bisa dilewati berdua dengan lapang dada.

“Seumpama pas lagi berantem, seharusnya Sabtu-Minggu bisa buat ngerjain tugas malah udah keburu males jadinya. So not only manage your time, but also manage your energy,” terang pengarang buku Manusia-Manusia Paling Misterius di Dunia ini.

Selanjutnya, Eka mengimbau para pelajar atau mahasiswa yang terlibat dalam cinta lokasi agar menyelami filosofi cinta. Dikatakan dia, cinta itu punya energi positif dan akan berefek positif jika dikelola dengan baik. Oleh karena itu, jangan sampai terlalu sibuk memikirkan cinta tapi justru lupa kuliah, malas kerja atau apatis berprestasi.

“Jika tidak bisa mengelola dengan baik, cinta lokasi itu akan menjadi bumerang bagi mereka yang terlibat baik aspek citra diri, aktivitas dan bahkan respons lingkungan. Jadikan cinta sebagai energi positif untuk berprestasi dalam kehidupan,” pungkasnya.

Sumber: Harian Joglosemar, 9 Maret 2012

Tags: , , , , , ,

Review Buku Manusia-manusia Paling Misterius di Dunia

 

Secara konten atau isi dari buku yang ditulis oleh Eka Nada Shofa Alkhajar ini menurut saya bagus, baik dan oke apalagi ditulis dengan bahasa ilmiah populer sehingga menjadi bacaan yang renyah dan enak dibaca. Namun ada yang kurang dalam pandangan saya yaitu berkaitan dengan layout buku karena ada beberapa gambar saya lihat layoutnya kurang rapi dan beberapa gambar belum terdapat caption.

Bagi saya caption dan layout itu cukup mempengaruhi tampilan sebuah buku. Karena tentu disayangkan apabila isi buku sudah begitu bagus namun layoutnya masih kurang rapi. Karena sekarangpun banyak beredar buku-buku yang sebenarnya isinya biasa-biasa saja bahkan amat biasa namun karena layoutnya bagus sehingga jadi terlihat bagus.

Akan tetapi, menurut saya ada tiga hal terpenting yang membuat buku ini, setidaknya menurut saya, menjadi sajian yang bagus. Pertama, penulis menyajikan hikmah (pelajaran) dari berbagai kisah yang dipaparkannya tanpa memberikan kesan menggurui atau “mengajarkan”. Semuanya mengalir dengan halus dan lembut.

Kedua, penulis memberikan pijakan teoritis dalam memaknai berbagai kisah manusia paling misterius di dunia tersebut dari sudut pandang industri budaya (culture industry) sehingga buku ini memiliki cakupan pembaca yang luas karena dapat dibaca orang awam atau orang akademik sekalipun.

Kemudian ketiga, yang menurut saya paling utama kelebihan dari buku ini adalah adanya daftar pustaka dalam hal ini adalah catatan kaki (footnote) sebagai referensi yang digunakan dalam menuliskan buku ini. Semisal World Mythology, The Facts On File Encyclopedia of World Mythology and Legend, berbagai buku-buku mengenai tokoh-tokoh yang disajikan dan sebagainya. Dari catatan kaki ini, dapat dilihat bahwa penulis benar-benar melakukan berbagai kroscek, pelacakan dan bahkan penelitian terhadap apa yang ditulisnya.

Dalam buku ini, saya sangat menyukai cerita mengenai Nostradamus karena ia memang merupakan tokoh misterius dan kontroversi karena berbagai ramalannya dulu saya pernah membaca sekilas mengenai dirinya dan di buku ini kisahnya dipaparkan secara lengkap dengan ramalan-ramalannya. Penasaran? Oleh karena itu, saya ucapkan selamat membaca!.

Sri Herwindya Baskara Wijaya, Pendidik dan Penikmat Buku

Sumber Review di sini

Tags: , , , , , , , ,

« Older entries § Newer entries »