February 2012

You are currently browsing the monthly archive for February 2012.

Brosur Kegiatan

Studio Audio Visual PUSKAT/Balai Budaya Sindhuharjo menyelenggarakan Training Komunikasi 2012 yang terdiri dalam dua bagian yakni Training Reguler dan Training Non Reguler.

Training Reguler meliputi (1) Produksi Program TV/Video (21 Hari); (2) Operasional Kamera & Editing (14 Hari).

Sementara Training Non Reguler mencakup: Orientasi Video/Televisi (7 Hari); Jurnalistik Televisi (14 Hari); Lokakarya Media dan Spiritualitas (5 Hari); Media Alternatif (7 Hari); Teater Rakyat (8 Hari); Retret Audio Visual (3 Hari) dan Radio Komunitas (7 Hari).

Info lanjut lihat di www.savpuskat.or.id.

 

 

Tags: , ,

Review buku “Manusia-manusia Paling Misterius di Dunia”


Review oleh Deski Ferdiansyah, Pendiri Stan Entrepreneurship Education Centre, pemilik “Deskluvest Production” group, Alumni Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN).

Saya ingin sedikit berbagi tentang suatu buku yang kebetulan saya beli beberapa hari lalu. Buku tersebut berjudul “Manusia-manusia Paling Misterius di Dunia”. Bagi orang yang suka terhadap misteri seperti saya, buku ini memberikan gambaran yang cukup terang dan boleh dikatakan conclusion terhadap beberapa “misteri besar dunia” yang sampai sekarang belum terungkap. Di samping menyajikan conclusion terhadap tokoh-tokoh yang diangkat, buku ini juga menyajikan referensi lengkap mengenai historical kejadian dari setiap tokoh. Itu yang membuat buku ini semakin menarik dan selalu asik untuk diikuti dari awal sampai akhir.

Dari segi bahasa, buku ini boleh saya bilang mendapat nilai 9,4 dari 10 angka sempurna. Kenapa saya katakan demikian, karena saya dapat membaca habis buku ini dalam waktu akumulatif 24 jam. Hanya dua hari saya baca and finally done. Yang paling penting, buku ini tidak pernah membuat saya menguap bosan, haha. Boleh saya katakan bahasanya benar-benar mengalir mengikuti aliran misteri menarik yang diangkat.

A certain that make this book very perfect adalah tidak hanya cerita biasa yang diangkat dalam buku ini. Semua cerita pasti merujuk kepada data-data dan fakta yang benar terjadi. Semua tulisan serta ulasan disajikan secara factual dan dilengkapi referensi serta sumber-sumber lengkap yang dapat dipertanggungjawabkan. Kalau saya boleh berpendapat, pasti penulis buku ini sering menyusun buku-buku ilmiah tebal yang menyita waktu. Haha. Jarang sekali saya temui buku conventional memuat literatur-literatur yang lengkap serta dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan.

Average dari buku ini menurut saya very good. Buku yang cocok untuk dibaca sebagai hiburan, pengisi waktu, penambah pengetahuan, serta dapat pula disimpan sebagai referensi sempurna dalam memfilter kepercayaan terhadap suatu misteri. So, I think this is a recommended book. :)

 

Sumber review di sini

Tags: , , , , , , ,

Manusia-manusia Paling Misterius di Dunia

Review oleh Truly Rudiono

 

Penulis : Eka Nada Shofa Alkhajar

Desain sampul dan Layout : Yudhi Herwibowo

Editor : Anton WP

ISBN : 978-979-1032-68-1

Halaman : 156 halaman

Penerbit : Bukukatta

 

 

 

Manusia memang makhluk misterius. Siapa yang bisa menebak apa keinginan dan bagaimana perilakunya. Bahkan saudara kembar sekalipun memiliki perbedaan walau sedikit. Maka jika ada manusia yang  mendapat julukan manusia misterius tentunya sangat menggugah rasa ingin tahu.

Buku setebal 156 halaman ini berkisah mengenai enam orang yang dianggap paling misterius, setidaknya versi penerbit. Mereka adalah;  Jack the Ripper, King Arthur, Man in the Iron Mask, Notradamus, Robin Hood dan Uri Geller. Beberapa nama sepertinya sudah cukup melegenda, sementara beberapa jarang terdengar.

Satu yang paling menarik dari buku ini ada daftar pustaka yang tidak main-main panjang dan terpercaya. Jangankan seputar keenam tokoh yang dianggap paling misterius, bahkan pengantar yang diberi judul Menguak Mitos dan Legenda dalam Balutan Industri Budaya dibuat sedemikian rupa. Penyajian tersebut membuat buku ini menjadi buku yang berbobot.

Uniknya lagi setelah membeberkan hasil telaah pustaka, penulis memberikan uraian mengenai tokoh yang diulas dilihat dari sisi sosial. Jadi tidak hanya sekedar menjabarkan informasi mengenai tokoh tersebut semata tapi juga melihat pengaruh dan kaitannya terhadap kehidupan sosial.

Pada kisah seputar  Jack the Ripper, pembaca bisa menemukan kesamaan diantara para korban, selain profesi mereka sebagai pekerja seks. Mereka umumnya berusia diantara 30-40 tahun. Para ripperlogist meyakini ada lima orang pekerja seks yang menjadi korbannya, Mary Ann Nicholas, Annie Chapman, Elizabeth Stride, Mary Jane Kelly serta Catherine Eddowes. Mereka dibunuh antara Agustus-November 1888. Banyak fakta data-data baru yang diuraikan dalam kisah ini. Pembaca dibuat seakan berada di waktu peristiwa itu terjadi sehingga lebih memahami mengenai tokoh tersebut.

Aneka dugaan mengenai sosok Jack the Ripper beredar di masyarakat. Ada yang menyebut ia adalah tukang daging, ada juga yang menyakini ia adalah dokter bedah. Sejauh ini ada dua kemungkinan mengenai sosok asli Jack the Ripper. Pertama, ia adalah orang gila yang sama sekali tidak diketahui jati dirinya. Kedua, ada satu atau dua orang yang mengetahui jati dirinya namun enggan mengungkapkannya pada umum.

Urusan ramalan dari duku hingga kini selalu menarik perhatian masyarakat. Tengok saja iklan yang tayang di televisi swasta. Dengan mendaftar disebuah layangan, kita bisa memperoleh aneka ramalan mengenai masa depan, baik dari sisi keuangan, kesehatan hingga jodoh.

Nama Nostradamus yang lahir di Perancis pada abad ke-16 sudah tak asing lagi.  Awalnya ia tersohor karena sukses menangani penyakit pes yang melanda Provence. Bahkan istri dan dua anaknya menginggal karena penyakit itu, sungguh kontras. rasa berdukanya membuat ia menjadi seorang pengembara.

Walau ia tersohor sebagai dokter dan pakar obat, sesungguhnya minta utamanya adalah pada bidang astrologi dan paranormal. Memang banyak yang meyakini kemampuannya meramal, tapi tak sedikit juga yang meragukan kemampuannya. Ramalannya ditulis dalam karya berjudul Centuries yang terdiri dari 10 jilid dan mulai diterbitkan pada tahun 1555. Wujudnya berupa syair atau sajak dalam Bahasa Perancis dan sesekali menggunakan Bahasa Yunani, Italia serta latin.

Ramalannya ditulis dengan menggunakan bahasa yang tersamar, penuh dengan aneka simbol dan teka-teki. Hal tersebut dimaksudkan agar tidak menimbulkan kecemasan terutama lagi ia tak mau dikira ahli sihir. Dewasa ini banyak masih antusias menjadikan ramalan Nostradamus sebagai referensi dalam melihat masa depan.

Walau  ramalan kematian dirinya sendiri  terbukti benar, namun  ada juga ramalannya yang tidak menjadi kenyataan.  Misalnysa aja ramalan mengenai kiamat pada tahun 1999. Ia meramalkan bakalan ada peperangan besar yang mengakhiri semua peperangan. “Pada tahun 1999 dan tujuh bulan, dari langit akan datang Raja Agung Kengerian. Dia akan menghidupkan kembali Raja Besar Mongol. Sebelum dan sesudah perang ia akan memerintah dengan bahagia.

Penerbit KATTA yang bermarkas di Solo selama ini memang selalu menyediakan buku-buku dengan tema yang unik. Sebut saja buku mengenai Pahlawan yang digugat, bukan bermaksud mempertanyakan kepahlawanan seseorang tapi hanya untuk menambah wacana saja. Atau kisah Misteri Terbesar Dunia. harganya pun relatif terjangkau.

Silahkan intip  www.bukukatta.com jika ingin mengetahui buku ciamik lainnya.

 

Sumber review di sini

Gambar-gambar dari sini, sini dan sini

Tags: , , ,

KNIK 2012

Pada Desember 2011 lalu, paper saya yang berjudul “Menguak Kerangka dan Konsepsi Komunikasi dalam Wayang Suket” diterima panitia untuk dipresentasikan pada Konferensi Nasional Ilmu Komunikasi (KNIK) 2012 yang berlangsung pada tanggal 9-10 Februari 2012 mendatang.

Namun saya tidak seorang diri, dosen senior saya di jurusan ilmu Komunikasi UNS seperti Prof. Dr. Andrik Purwasito, DEA, Dra. Prahastiwi Utari, M.Si, Ph.D, Dra. Sofiah, M.Si dan Sri Hastjarjo, S.Sos. Ph.D turut ambil bagian mengikuti forum ini. Alhamdulillah, justru malah menyenangkan karena kita semua berangkat bersama-sama. Ketika sampai di kampus Universitas Pelita Harapan (UPH), Tangerang, Banten. Suasana kampus yang menarik hinggap di hati. Kampusnya bagus dan bersih.

Foto Bersama (UNS team in this picture: Saya dan Pak Hast)

Kami berlima kemudian langsung menuju ke Gedung D lantai 5 ruang 502 untuk mengikuti plenary session. Dalam kesempatan ini hadir Menteri Riset dan Teknologi, Prof. Dr .Ir .H. Gusti Muhammad Hatta, MS sebagai keynote speaker yang menyampaikan paparan bertema “Pentingnya Sumber Daya Manusia dan Ilmu Pengetahuan & Teknologi Dalam Meningkatkan Ekonomi dan Kesejahteraan Rakyat” yang kemudian dilanjutkan dengan berbagai sesi selanjutnya bertema “Perkembangan Penelitian Komunikasi Indonesia di Era Global”. Adapun rundown lengkap acara dapat dilihat di sini.

Saya, Ibu Tiwi dan Pak Hast mendapat kesempatan di hari pertama untuk mempresentasikan paper. Sementara Prof. Andrik dan Ibu Sofi mendapat kesempatan di hari berikutnya. Setelah presentasi saya pamit pulang karena harus ke Pusat Film Usmar Ismail untuk mencari bahan penelitian saya. Sementara keempat dosen dan senior saya tersebut tinggal di hotel UPH (terletak di dalam kampus).

Pada acara penutupan, tim UNS tidak dapat mengikuti karena pukul 15.00wib harus sudah berada di bandara soekarno-hatta (soetta). Saya pun langsung ke soetta. Menunggu sebentar dan akhirnya bisa bersama-sama menuju ruang tunggu. Saat di ruang tunggu kami diberi kabar melalui Ibu Tiwi bahwa KNIK 2012 memilih tiga paper terbaik. Di mana dua diantaranya berasal dari UNS yakni karya saya dan Ibu Sofi. Alhamdulillah, kami pun berucap syukur dan akhirnya tak lama kemudian kami meluncur kembali ke Solo.

Sumber gambar di sini

Foto dari sini

 

Tags: , , , , ,

Manusia-manusia Paling Misterius di Dunia

Oleh Alvina Vanila

Judul Buku : Manusia-manusia Paling Misterius di Dunia

Penulis : Eka Nada Shofa Alkhajar

Desain sampul dan Layout : Yudhi Herwibowo

Editor : Anton WP

Penerbit : Bukukatta

Cetakan pertama : 2012

Tebal : 156 halaman, paperback

ISBN : 978-979-1032-68-1

 

Pertama kali membaca judul buku ini, saya sudah dibuat penasaran. Bagaimana tidak? Ada kata “misterius” yang tertulis besar di sampulnya. Berdasarkan KBBI, makna misterius adalah penuh rahasia; sulit diketahui atau dijelaskan (krn tidak jelas tanda-tandanya dsb). Tuh kan, malah semakin membuat saya penasaran, siapa saja manusia-manusia yang mendapat gelar tersebut yang akan “dibedah” penulis di buku ini?

Ikut penasaran juga? Saya ceritakan sedikit ya, sedikiit aja, biar pada tambah penasaran. :D

  1. Jack the Ripper

Bagi pencinta novel detektif atau misteri, pasti nama ini sudah sering kita dengar, baca, bahkan berkali-kali ia menjadi tokoh dalam cerita film. Kisah Jack the Ripper mengingatkan kita akan kasusnya yang sampai sekarang tak terselesaikan karena misteri siapa dia sebenarnya masih belum terkuak. Jack the Ripper adalah pembunuh yang terkenal akan kesadisannya dalam menghabisi nyawa beberapa orang pelacur di abad 19.

Penulis membeberkan beberapa teori yang mencoba memecahkan misteri siapa sebenarnya Jack ini. Konspirasi yang membawa nama baik polisi, pers, bahkan sampai ke kerajaan Inggris juga disuguhkan di buku ini. Berbagai tersangka disajikan lengkap dengan alasan-alasan, baik yang memperkuat maupun yang bertentangan sehingga pembaca tidak melihatnya hanya dari satu sisi saja.

2. King Arthur

Nah kalau yang ini pasti sudah banyak yang mengenal namanya, Arthur sering muncul di banyak cerita sejarah, film, dan berbagai serial jaman pertengahan. Tentu saja ketenaran Arthur diiringi kisah-kisah tentang Excalibur, Merlin, Ksatria Meja Bundar, Cawan Suci dan masih banyak hal lagi yang berkaitan dengannya. Tapi benarkah kesemua cerita tentang Raja Arthur itu asli?

Untuk itu penulis memaparkan beberapa temuan historis yang mengungkapkan siapa sebenarnya Arthur ini. Ada yang menyebutkan bahwa ia Raja, tapi tak sedikit yang berpendapat bahwa sebenarnya Arthur hanya seorang panglima. Alhasil banyak mitos dan legenda yang berbeda tentang dia, termasuk di mana dan bagaimana cara kematiannya.

3. The Man in The Iron Mask

Bagi penggemar Leonardo di Caprio, pasti nama ini tak asing lagi di telinga. Film yang diluncurkan tahun 1998 dengan judul sama cukup membuat kegemparan dunia dengan mempertanyakan apakah tahanan dalam topeng besi itu nyata atau fiksi belaka. Tapi tahukah Anda, bahwa The Man in The Iron Mask benar-benar ada dan tengkoraknya ditemukan di Bastille pada tahun 1789. Masalahnya, siapa sebenarnya pria dalam topeng ini masih menjadi misteri.

Tahanan ini dikenal hidup pada jaman Saint-Mars, seorang Gubernur Bastille pada jaman Louis XIV. Siapa tahanan ini, apa kesalahannya dan mengapa tidak langsung dihukum mati saja telah menimbulkan banyak perdebatan sampai sekarang. Di buku ini, penulis mencoba melacak siapa sebenarnya tahanan tersebut berdasarkan beberapa pendekatan dan bukti-bukti yang diperoleh dari sejarah. Spekulasi yang kadang diperkuat atau dilemahkan oleh argumen-argumen juga disampaikan dengan jelas.

4. Nostradamus

Meski Ia dikenal sebagai seorang peramal, ternyata Nostradamus juga seorang dokter dan pakar obat-obatan. Seorang peramal Perancis di Abad ke-16 ini telah menghebohkan dunia bahkan setelah kematiannya ratusan tahun silam. Karya Fenomenalnya, The Centuries, telah mengejutkan dunia dengan beberapa ramalannya yang terbukti menjadi nyata. Penulis menjabarkan beberapa pandangan terhadap ramalan Nostradamus yang terkenal ini. Ada pihak yang meyakini, tapi ada juga yang skeptis terhadap tuah ramalan tersebut.

5. Robin Hood

Seorang lelaki yang mendermakan hasil curiannya ke orang-orang miskin, senjatanya busur panah dan hidupnya di hutan Sherwood. Itu deskripsi singkat yang sering kita dengar tentang Robin Hood. Banyak cerita yang berkisah tentang kegagahan Robin Hood, tapi sebenarnya dia itu nyata atau fiksi? Beberapa kisah dituliskan di buku ini untuk mencoba menyingkap misteri siapa sebenarnya Robin Hood. Pembaca juga diberikan beberapa nama yang disebut-sebut merupakan Robin Hood yang sebenarnya. Tapi kembali lagi, nama yang mana yang benar-benar merupakan nama asli dari Sang Pencuri dan Pemanah ulung tersebut?

6. Uri Geller

Merasa asing dengan nama ini? Sejujurnya, saya juga baru membaca kehebatan Uri di buku ini. Ia adalah seorang ilusionis yang kalau di Indonesia mungkin seperti Deddy Corbuzier. Uri memiliki kemampuan psikokinesis (mempengaruhi benda dari jarak jauh). Di buku ini diceritakan bagaimana kisah Uri sejak pertama kali muncul di layar kaca sampai saat ini menjadi seorang yang kontroversi dan masih misterius. Disebutkan juga bahwa meski terkenal akan kemampuannya, banyak pihak yang meragukan apakah sahabat Michael Jackson ini sebenarnya seorang penipu atau bukan.

Dari keenam orang yang digelari “misterius” oleh penulis, kesemuanya diberikan penjelasan akan dampak budaya maupun dari segi Industri yang menjadikan hal-hal yang berhubungan dengan nama-nama di atas menjadi suatu komoditas. Banyak film, buku, game, kunjungan wisata, dan tempat bersejarah yang telah dikomodifikasi menjadi sesuatu yang menghasilkan uang dalam jumlah yang tidak sedikit. Sayangnya tidak dijelaskan alasan mengapa penulis memilih keenam tokoh ini dari sekian banyak manusia misterius di luar sana. Beberapa typo juga masih sering muncul meski tidak terlalu mengganggu.

Tapi kelebihan buku ini adalah bagaimana penulis mampu menghubungkan antara sejarah dengan fiksi yang melegenda.

3,5 bintang untuk buku ini!

 

Sumber review lihat di sini

Tags: , , , , , ,

Eka Nada Shofa Alkhajar

Menguak Mitos dan Legenda dalam Balutan Industri Budaya [1]

Dewasa ini industri budaya (culture industry) kian menyeruak sebagai fenomena. Berbagai sisi kehidupan manusia sepertinya tidak dapat lepas dari infiltrasi fenomena tersebut. Termasuk di dalamnya adalah mengenai mitos atau legenda dari sebuah enigma pun tak luput darinya. Secara jujur kalau kita ingin menilik lebih ke dalam nampaknya industri budaya telah merasuk jauh ke segenap relung serta sendi dunia realitas kita baik dalam makna sesungguhnya atau sekedar metafisika. Nicholas Garnham dalam tulisannya “On the Cultural Industries” (1997) [2], menjelaskan bahwa industri budaya merujuk pada institusi-institusi dalam masyarakat yang mengolah moda khusus produks dan organisasi korporasi guna memproduksi dan menyebarkan simbol-simbol dalam bentuk benda-benda dan jasa budaya sebagai suatu komoditas.

Senada dengan Garnham, Fiske mengurai bahwa industri budaya memproduksi “repetoir” barang-barang ataupun jasa dengan harapan menarik khalayak dan menyertakan khalayak sebagai konsumen komoditas tersebut (dalam Storey, 2007: 32) [3].  Dengan kata lain, ada suatu komodifikasi terhadap berbagai mitos atau legenda dari manusia-manusia yang dapat dikatakan misterius tersebut. Bentuk komodifikasi itu dapat berupa film, game, novel, buku, serial televisi sampai pada berbagai pertunjukkan hiburan bahkan pariwisata. Merujuk Gerald Sussman (1997), hal ini merupakan sebuah industri baru yang melakukan komodifikasi terhadap segala sesuatu. [4]

Dalam Webster’s New World Encyclopedia (1992), komodifikasi sendiri berasal dari bahasa Inggris “comodification” dimana akar kata tersebut adalah “comodity” yakni “something produced for sale”. Komoditas merupakan suatu objek. [5] Sementara, komodifikasi itu sendiri adalah proses—meminjam uraian dari Mosco (2009) adalah suatu cara dimana kapitalisme berupaya mengakumulasi modal (capital) [6].  Singkat kata, adalah suatu transformasi atau perubahan dari nilai fungsi atau guna menjadi nilai tukar.

Kapitalisme sendiri menurut Karl Marx merupakan suatu sistem ekonomi yang memungkinkan beberapa individu menguasai sumberdaya produksi vital yang mereka gunakan untuk meraih keuntungan maksimal. [7] Akan tetapi tidak hanya itu, kapitalisme sebagai mode of production kini telah masuk ke berbagai ranah kehidupan baik politik, sosial, budaya dan sebagainya.

Bahkan Francis Fukuyama dalam tesisnya mengatakan bahwa setelah kapitalisme dan demokrasi liberal muncul serta berkembang maka hal ini merupakan tahap akhir dari proses penciptaan ide dalam sejarah. Dengan kata lain, ke depan tidak ada ide baru. Tidak ada lagi peristiwa-peristiwa dan kemajuan-kemajuan besar lain di dunia ini yang dipandang penting untuk dicatat dalam majalah, surat kabar, radio, televisi dan media massa atau elektronik lainnya. Kapitalisme maupun demokrasi liberal Amerika Serikat sebagaimana diurai Fukuyama akan menjadi panutan di dunia dan dengan demikian berakhirlah sejarah dunia. Akan tetapi tesis ini sebenarnya sudah patut dimuseumkan apalagi dalam memahami peradaban kontemporer karena sejarah sejatinya merupakan siklus yang terus berputar. [8] Tentu kita bersama mengetahui bahwa Amerika Serikat kini sedang mengalami permasalahan dalam ekonominya dimana China kini merupakan kreditor terbesar bagi negara adidaya tersebut.

Kritik terhadap Industri Budaya

Salah satu tulisan Adorno dan Horkheimer berjudul “The Culture Industry–Enlightenment as Mass Deception” dalam Dialectic of Enlightenment (1972) mengungkapkan kritiknya mengenai industri budaya. Sebagai penganut aliran kritis mazhab Frankfurt, mereka menilai bahwa kini kebudayaan didominasi berbagai komoditas yang diproduksi oleh industri budaya dimana komoditas-komoditas yang dihasilkan oleh industri budaya diarahkan oleh kebutuhan untuk menyadari nilainya di pasaran dimana motif keuntungan menentukan berbagai bentuk budaya yang akan dijual. [9]

Adorno dan Horkheimer menilai bahwa kapitalisme dalam era modern menyediakan dan mengadakan industrialisasi terhadap semua hal termasuk waktu luang dan area budaya kehidupan yang tidak pernah diperhatikan produk kapitalis sebelumnya dimana kapitalisme didorong oleh logika mencari dan kemudian memenuhi pasar-pasar baru. [10] Dari sini akan dihasilkan suatu budaya massa atau budaya populer yang merupakan produk nyata dari pencerahan semu kapitalisme. Pencerahan semu adalah pencerahan melalui komoditas dan komodifikasi seluruh aspek kehidupan. [11]

Budaya Populer (Pop Culture)

Komoditas-komoditas yang diproduksi dan dilemparkan kepada khalayak perlahan tapi pasti akan menjadi budaya massa atau budaya populer yang sangat menjanjikan peluang pelipat gandaan kapital dari budaya populer itu sendiri. Apalagi budaya populer itu sudah merasuk dan hidup ditengah-tengah khalayak dimana yang diperlukan kapitalisme hanyalah memproduksi ulang dengan berbagai variasi yang berbeda untuk kemudian dijual kembali kepada khalayak. Dalam arti diproduksi dan direproduksi untuk mencari nilai lebih dari nilai tukar (exchange-value). [12]

Salah satu alat ampuh dalam upaya penyebaran budaya populer ini adalah media massa. Merujuk pada pandangan Stuart Hall, media massa merupakan instrumen yang penting dari kapitalisme abad ke-20 bahkan hingga saat ini. [13] Ini tidak lepas bahwa media massa dengan berbagai bentuknya, meminjam istilah Jean Baudrillard dalam In the Shadow of the Silent Majorities (1983)—media mempunyai logika sendiri dalam menangkap “realitas”. Realitas disini tentunya adalah berbagai mitos ataupun legenda ada maupun berkembang dalam masyarakat. Hal ini tidak dapat dipungkiri karena realitas tersebut telah masuk ke dalam sebuah industri budaya (culture industry). [14]

Dominic Strinati mengingatkan bahwa budaya populer harus dipandang sebagai sekumpulan genre, teks, citraan dan representasi yang bermacam-macam dan bervariasi yang dapat dijumpai dalam berbagai media. [15] Secara lebih mudah mitos dan legenda yang ada dapat dikatakan merupakan suatu teks sehingga kalaupun harus membaca setidaknya kita tengah membaca suatu teks populer. Dan tidak dapat ditutupi, para penggemar adalah bagian paling tampak dari khalayak teks dan praktik budaya populer. [16]

Henry Jenkins mengatakan salah satu ciri utama yang menandai moda pemberian (makna) budaya penggemar dalam teks-teks media adalah dengan melihat cara penggemar menarik teks mendekati ranah pengalaman hidup mereka, peran yang dimainkan melalui pembacaan kembali dalam budaya penggemar dan proses yang dengannya informasi program dimasukkan ke dalam interaksi sosial yang terus menerus. [17]

Sebagaimana diuraikan Jenkins: Teks ditarik mendekat bukan agar penggemar bisa dimiliki olehnya melainkan sebaliknya agar penggemar bisa lebih penuh memilikinya. Hanya dengan mengintegrasikan isi media kembali dalam kehidupan sehari-hari media, hanya dengan keterlibatan yang karib dengan makna dan materinya, para penggemar bisa mengonsumsi fiksi dan menjadikannya sebagai sumber daya yang aktif. [18]

Dalam Bond and Beyond (1987), Tony Bennett dan Janet Woollacott mengurai bagaimana cara-cara budaya industri memproduksi dan mereproduksi suatu figur melalui teks dan praktik budaya secara beragam. Bennett dan Woollacott secara lebih jauh hendak mengeksplorasi mengapa dan bagaimana teks-teks tersebut mampu menciptakan daya tarik. Cara-cara yang berbeda dengan alasan-alasan yang berbeda. Memastikan popularitasnya akan terus berlangsung. [19] Sehingga tidak heran apabila kerap diciptakan semisal festival tahunan yang berkaitan dengan suatu mitos atau legenda tertentu di berbagai belahan dunia ini. Dalam konteks contoh disini adalah Festival Robin Hood.

Kaitan Khalayak dan Teks Populer 

Lawrence Grossberg (1992) menyimpulkan secara apik mengenai kaitan khalayak dan teks popular. Ia menuliskan bahwa: Kita harus mengakui bahwa sebagian besar hubungan antara khalayak dan teks popular adalah hubungan yang aktif dan produktif. Makna teks tidak diberikan pada beberapa rangkaian kode yang tersedia secara terpisah dimana kita bisa mengonsultasikannya kapan saja kita sempat. Sebuah teks tidak menyandang politik atau maknanya sendiri yang telah ada di dalam dirinya sendiri; tak ada teks yang mampu menjamin efek apa yang akan terjadi. Orang-orang terus-menerus bersusah payah, bukan semata-mata menyimak dengan apa makna sebuah teks, tetapi untuk membuat sesuatu yang terkait dengan kehidupan, pengalaman, kebutuhan serta hasrat mereka sendiri menjadi bermakna. Teks yang sama bermakna berbeda bagi orang yang berbeda tergantung pada bagaimana teks itu diinterpretasikan. Dan orang yang berbeda punya sumber daya interpretatif yang berbeda sebagaimana mereka punya kebutuhan yang berbeda. Sebuah teks hanya dapat bermakna sesuatu dalam konteks pengalaman dan situasi khalayaknya. Yang tak kalah penting, teks tidak mendefinisikan bagaimana teks-teks itu digunakan atau fungsi-fungsi apa yang bisa dijalankan sebelumnya. Teks-teks dapat mempunyai kegunaan yang berbeda bagi orang yang berbeda dalam konteks yang berbeda… Bagaimana sebuah teks yang spesifik digunakan, bagaimana teks itu diinterpretasikan, bagaimana ia berfungsi bagi khalayaknya—semua ini terkait erat lewat pergumulan khalayak yang terus-menerus guna memahami dirinya sendiri dan dunianya, bahkan lebih dari itu, mewujudkan tempat yang lebih baik bagi dirinya sendiri di dunia. [20]

Akan tetapi media massa sebagai agen utama penyebaran budaya populer berupa teks populer tidak lepas dari kritik Noam Chomsky. Salah satu pemikir kenamaan ini mengatakan bahwa fakta berupa “teks populer” yang disajikan media massa dapat berarti hanyalah hasil rekonstruksi dan tidak sepenuhnya merupakan fakta yang sebenarnya. Karena itu harus disadari bahwa media massa merupakan alat ampuh dalam perebutan makna sekaligus memiliki kekuatan maha dahsyat dalam mempengaruhi masyarakat. [21]

Namun proses penyebaran berbagai teks tersebut tentunya kian dipermudah dengan adanya globalisasi yang menurut Anthony Giddens mempunyai berbagai dimensi pengaruh apalagi globalisasi telah menyebabkan dunia berada di luar kendali kita (runaway world) serta merombak cara hidup kita secara besar-besaran. [22]

Dalam industri budaya, tidak peduli apakah mitos dan legenda itu adalah “realitas” yang berasal dari yang nyata atau bahkan hanya fiksi dan fantasi dalam pijakan dasar teksnya. Yang paling utama adalah teks tersebut laku dijual dan mampu menjadi sumber kesenangan. Hal ini senada sebagaimana pernah diungkapkan Ien Ang bahwa fiksi dan fantasi adalah sumber kesenangan sebab ia menempatkan “realitas” dalam selingan karena ia membangun solusi imajiner bagi kontradiksi-kontradiksi nyata. [23]

Sementara itu, John Fiske (1987) berpendapat bahwa komoditas budaya yang memunculkan budaya massa setidaknya tersebar dalam dua ekonomi sekaligus yakni ekonomi financial dan ekonomi cultural. Ekonomi financial terutama menaruh perhatian pada nilai tukar, sedangkan ekonomi cultural terutama berfokus pada nilai guna—makna, kesenangan dan identitas sosial. Dimana interaksi antara dua ekonomi ini senantiasa berlangsung secara kontinu. Komoditas budaya yang berupa teks-teks tadi dapat dijual sekaligus menjadi sebentuk makna dan kesenangan bagi khalayak setelah terlebih dahulu tentunya melalui proses logika ekonomi. Fiske menegaskan bahwa semua itu terletak pada khalayak yang melakukan konsumsi. [24]

Membaca budaya popular berkaitan dengan konsumsi. Ideologi konsumerisme seakan menjadi pencarian yang tiada akhir dan tak mengenal habisnya. Setidaknya janji yang dibuatnya adalah bahwa konsumsi merupakan jawaban dari semua masalah kita, konsumsi akan membuat kita utuh kembali, konsumsi akan membuat kita penuh kembali, konsumsi akan membuat kita lengkap lagi, konsumsi akan mengembalikan kita pada kondisi “imajiner” yang diliputi kebahagiaan. [25]

Selanjutnya, apabila semakin kita menyelami buku ini maka aroma dan rasa dalam berbagai mitos dan legenda yang tersaji di dalam setidaknya akan memberikan gambaran betapa industri budaya telah merubah berbagai hal menjadi semacam komoditas budaya populer yang tentu saja berkaitan dalam rangka menceburkan diri dalam rimba ataupun lautan kapitalisme. Tabik.

 

Catatan

[1] Sebuah pengantar ringkas menyelami “Manusia-manusia Paling Misterius di Dunia”. Tulisan ini pernah dimuat dalam Jurnal Komunikasi Massa, Vol. 4, No. 2, Juli 2011. Disajikan ulang dengan beberapa penyesuaian.
[2] Nicholas Garnham, “On The Cultural Industries”, dalam Paul Marris and Soe Torham (Ed.), Media Studies: A Reader. Edinburg: Edinburg University Press, 1997.
[3] Lihat, John Storey. Pengantar Komprehensif Teori dan Metode Cultural Studies dan Kajian Budaya Pop. Terj. Laily Rahmawati. Bandung: Jalasutra, 2007, hal. 32.
[4] Baca, Gerald Sussman. Communication, Technology, and Politics in The Information Age. Thousand Oaks, California: Sage Publications, 1997, hal. 34-35.
[5] Webster’s New World Encyclopedia. 1992. New York: Prentice Hall.
[6] Vincent Mosco. The Political Economy of Communication. Second Edition. London: Sage, 2009.
[7] Lihat, Burhan Bungin. Imaji Media Massa. Yogyakarta: Jendela, 2001, hal. 29; Stephen K. Sanderson. Sosiologi Makro, Sebuah Pendekatan Terhadap Realitas Sosial. Jakarta: Rajawali, 1993, hal. 169.
[8] Lihat, Francis Fukuyama. The End of History and the Last Man. New York:  Free Press, 1992; Francis Fukuyama dan Samuel P. Huntington. The Future of The World Order: Masa Depan Peradaban dalam Cengkraman Demokrasi Liberal Versus Pluralisme, Cet. 2. Terj. Ahmad Faridl Ma’ruf. Yogyakarta: IRCiSoD, 2005, hal. 7-8.
[9] Lihat, Theodor Adorno and Max Horkheimer. Dialectic of Enlightenment. New York: Herder and Herder, 1972; Theodore Adorno. The Culture Industry. London: Routledge, 1991, hal. 86-87.
[10] Fred Inglis. Theory Media An Introduction. Massachusetts: Basil Blackwell Inc, 1990, hal. 114.
[11] Yasraf Amir Piliang. Hiperrealitas Kebudayaan. Yogyakarta: LKIS, 1999, hal. 32-33.
[12] Piliang, Op.Cit, hal. 33.
[13] Celia Lury. Budaya Konsumen. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1998, hal. 62-63.
[14] Eka Nada Shofa Alkhajar, “Sinetron dalam Jeratan Industri Budaya”, Pelita, 29 April 2010.
[15] Dominic Strinati. Popular Culture: Pengantar Menuju Teori Budaya Populer. Terj. Abdul Muchid. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2009, hal. 77.
[16] Storey, Op.Cit, hal. 157.
[17] Lihat, Henry Jenkins, Textual Poachers, New York: Routledge, 1992, hal. 53; Storey, hal. 162-163.
[18] Jenkins, Ibid, hal. 62.
[19] Tony Bennett and Janet Woollacott. Bond and Beyond. London: Mcmillan, 1987, hal. 20.
[20] Dikutip dari Storey, Op.Cit, hal. 8; Lihat pula, Lawrence Grossberg, “Is There a Fan in The House?: The Affective Sensibility of Fandom” In L. Lewis (ed.), The Adoring Audience: Fan Culture and Popular Media. London: Routledge, 1992, hal. 52-53.
[21] Denis McQuail. Mass Communication Theory. London: Sage Publication: 2002; Noam Chomsky. Kuasa Media, Terj. Nurhady Sirimorok. Yogyakarta: Pinus, 2005.
[22] Anthony Giddens. RUNAWAY WORLD: Bagaimana Globalisasi Merombak Kehidupan Kita, Cet. 2, Terj. Andry Kristiawan S. dan Yustina Koen S. Jakarta: Gramedia, 2004, hal. xiv-xvi.
[23] Ien Ang. Watching Dallas. London: Methuen, 1985; B. Ashley (ed.) The Study of Popular Fiction. London: Pinter, 1989; Tony Bennett (ed.). Popular Fiction. London: Routledge, 1990; Tony Bennett, et.al (ed). Popular Culture and Social Relations. Milton Keynes: Open University Press, 1986.
[24] Lihat, Storey, Op.Cit, hal. 31-32.
[25] John Fiske. Reading Popular Culture. Boston, MA: Unwin Hyman, 1989.

 

Tags: , , , , , , , , , , ,

 

Alhamdulillah, akhirnya buku saya yang berjudul Manusia-manusia Paling Misterius di Dunia telah terbit. Sebagaimana dijadwalkan penerbit yakni pada awal tahun 2012, atau tepatnya bulan Januari ini.

Dari informasi yang diberikan Penerbit BukuKatta, buku ini telah rilis dan beredar di wilayah Jabodetabek. Kebetulan rekan-rekan yang saya kabari sempat mengecek dan mengatakan bahwa benar buku tersebut sudah ada di Gramedia Jakarta.

Untuk wilayah-wilayah lain di Indonesia sejak minggu lalu masih dalam proses distribusi kemungkinan segera menyusul atau bahkan mungkin sudah sampai. Pembaca bisa mendapatkan buku ini di berbagai Toko Buku seharga Rp.30.000,-. Atau dapat pula langsung melalui Penerbit BukuKatta di sini.

Buku ini merupakan buku kedua saya dalam arti saya seorang diri menuliskannya. Buku pertama saya sebelumnya yaitu Pahlawan2 Yang Digugat (2008). Adapun buku kolaborasi saya yakni Anomi Media Massa (2009) dan Pelabuhan Terakhir (2011).

Buku Manusia-manusia Paling Misterius di Dunia ini berpijak bahwa banyak hal dalam dunia ini yang masih berselimut tabir misteri. Tak heran apabila muncul adagium “kehidupan kerap melahirkan enigma”. Dalam perjalanan waktu ada berbagai hal yang terungkap namun banyak pula yang masih tersimpan rapi dalam teka-teki.

Berawal dari upaya untuk menguak misteri terutama mengenai beberapa manusia yang tergolong misterius maka tulisan ini dimaksudkan untuk melacak dan mengurai mengenai perihal tersebut. Sehingga dapat dikatakan ikhtiar ini layaknya menguak mitos dan legenda yang selama ini masih menjadi tanda tanya, belum terungkap atau terpecahkan “unsolved mysteries”.

Kelebihan dari bahasan dalam buku ini adalah adanya penelusuran kembali melalui studi literatur (literature study) maupun studi dokumen (document study) untuk menghasilkan kebaruan informasi, penggunaan data update kontemporer maupun berbagai referensi yang ada serta disertai dengan analisis mengenai perihal tersebut sehingga menghasilkan lacakan yang sarat akan kekayaan data.

Selain itu, penulis juga tertarik untuk melihat fenomena pelbagai kisah misterius tersebut dari beragam sudut pandang semisal sejarah sampai komodifikasi dimana tidak dapat dipungkiri kisah-kisah tadi hingga saat ini senantiasa diawetkan, diproduksi ulang, dikemas, hingga dapat menjadi sebentuk komoditas yang laris dan laku untuk dijual. Semisal menjadi sebuah potensi wisata, festival ataupun produk-produk industri budaya (culture industry) seperti serial televisi, film, lagu, komik, kartun, game, dan sebagainya.

Buku ini menguak enam kisah manusia-manusia paling misterius di dunia: (1) Jack The Ripper: Sang Pembunuh Para Pelacur yang Tak Kunjung Terungkap; (2) King Arthur: Legenda atau Rekaman Sejarah Nyata?; (3) Man in the Iron Mask: Laki-laki Misterius di Balik Topeng Besi; (4) Nostradamus: Sang Ahli Nujum Kontemporer; (5) Robin Hood: Sang Penganut Althurism Sejati, Apakah Ia Pernah Ada?; (6) Uri Geller: Fenomena atau Tipuan?.

Pengantar Menyelami Buku ini klik di sini